Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 November 2013

PENALARAN INDUKTIF



Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, alumunium, tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanaskan akan bertambah panjang. Biasanya penalaran induktif ini disusun berdasarkan pengetahuan yang dianut oleh penganut empirisme.
contoh penalaran induktif adalah :kerbau punya mata. anjing punya mata. kucing punya mata:. setiap hewan punya matapenalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistik.

Selanjutnya pengertian penalaran induktif menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007 :14) istilah penalaran mengandung tiga pengertian, diantaranya :

1.cara (hal) menggunakan nalar, pemikiran atau cara berfikir logis.
2.Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.
3. Proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.

Contohnya dalam menggunakan preposisi spesifik seperti:
Es ini dingin. (atau: Semua es yang pernah kusentuh dingin.)
Bola biliar bergerak ketika didorong tongkat. (atau: Dari seratus bola biliar yang didorong tongkat, semuanya bergerak.)

Untuk membedakan preposisi umum seperti:
Semua es dingin.
Semua bola biliar bergerak ketika didorong tongkat.

Induksi kuat:
Semua burung gagak yang kulihat berwarna hitam.
Induksi lemah:
Aku selalu menggantung gambar dengan paku.
Banyak denda mengebut diberikan pada remaja.

Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.

Perbedaan dari penalaran deduktif dan induktif adalah, penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.

Jenis – jenis penalaran induktif yaitu :
1. Generalisasi yaitu proses penalaran dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data.

Contoh :
Hasil UTS mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 3EA06 telah keluar. Ternyata dari 40 mahasiswa hanya 10 orang yang mendapat nilai 90. Setengahnya mendapat nilai antara 80 – 65 dan tidak ada seorang pun yang mendapat nilai di bawah 65. Itu berarti dapat disimpulkan bahwa mahasiswa kelas 3EA06 cukup pintar dalam mengerjakan soal Bahasa Indonesia.

Macam – macam generalisasi :
·         a. Generalisasi sempurna yaitu generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan penyelidikan. Contoh : sensus penduduk

·         b. Generalisasi tidak sempurna yaitu generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Generalisasi ini dapat menghasilkan kebenaran bila melalui pengujian yang benar.

2. Analogi yaitu cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang memilki sifat yang sama.

Contoh :
Danih adalah seorang altlet lari kebanggaan Indonesia. Setiap hari dia selalu berlatih keras untuk meningkatkan kemampuan berlarinya. Demikian juga dengan Sandy, dia merupakan seorang polisi yang memerlukan fisik yang kuat untuk menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum. Keduanya membutuhkan mental dan fisik yang kuat untuk bertanding atau mambantu masyarakat melawan kejahatan. Oleh karena itu, untuk menjadi atlet dan polisi harus memilki mental dan fisik yang kuat dengan cara selalu berlatih.

3. Hubungan kausal yaitu penalaran yang diperoleh dari gejala – gejala yang saling berhubungan.

Contoh :
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan emas memuai

Macam – macam hubungan kausal :

·         a. Sebab - akibat
Contoh :
Sejumlah pengusaha angkutan di Bantul terpaksa gulung tikar karena pendapatan yang mereka peroleh tidak bisa menutup biaya operasional. Minimnya pendapatan karena sebagian besar penumpang membayar ongkos dibawah ketentuan tarif yang sudah ditetapkan, akibat ketidakmampuan ekonomi. (Sumber : Kompas, 10 Mei 2008).

·         b. Akibat -sebab
Contoh :
Andi mendapat nilai yang memuaskan pada ujian semester kenaikan kelas. Dia mendapat rangking pertama di kelasnya. Hasil yang diperoleh Andi ini dia dapatkan karena belajar yang sangat tekun setiap harinya.

c Akibat – akibat
Contoh :
Kemarin Lusi mengalami kecelakaan akibat menabrak pembatas jalan. Akibat dari kecelakaan tersebut dia mengalami patah kaki dan harus dirawat di rumah sakit.



Sumber :  
http://pratiwi-19.blogspot.com/2012/03/penalaran-induktif_683.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/04/definisi-penalaran-induktif-dan-contohnya/
http://robiantocokro.wordpress.com/2011/12/13/penalaran-induktif/

Selasa, 08 Oktober 2013

RESENSI BUKU


IDENTITAS BUKU





Judul               :  Ali sadikin,membenahi jakarta menjadi kota yg manusiawi

Penulis             :  Ramadhan KH
Penerbit           :  Ufuk
Terbit               :  1 juni 2012
Halaman          :  612 halaman
Harga              :  Rp.74.000,00


SINOPSIS BUKU
Membuat perbaikan di Kota Jakarta bukan perkara gampang. Landasan teori planologi maupun teori kemsyarakatan tidak sepenuhnya dapat menuntaskan persoalan yang telah lama bercokol. Sebaliknya, keinginan yang kuat, idealisme, serta kerja keras merupakan modal utama untuk melakukan perubahan.

Tampaknya para calon gubernur Jakarta periode mendatang perlu menengok kembali sepak terjang Ali Sadikin ketika ia mulai melakukan berbagai pembenahan di Jakarta pada awal masa kepemimpinannya. Seperti diketahui, kala itu Jakarta menyimpan setumpuk masalah.

Jalanan yang tidak memadai, kurangnya jumlah sekolah, angka pengangguran yang tinggi, minimnya fasilitas kesehatan, adalah sebagian kecil persoalan yang dihadapi Jakarta ketika Ali Sadikin mulai menjabat gubernur Jakarta. Ditambah lagi kondisi keuangan pemerintah kota yang sangat tidak mendukung untuk dilakukannya perubahan dengan segera.

Semua itu telah membuat Ali Sadikin berpikir keras untuk membalikkan keadaan. Baginya salah satu hal yang harus dilakukan adalah memikirkan sumber pendapatan untuk memperoleh dana pembangunan. Salah satu sektor yang digenjonya kala itu ialah sektor pajak.

Dengan kata lain ia merevitalisasi sektor pajak agar kebocoran dikurangi sambil mencari sumber pajak lain yang dapat dimaksimalisasi. Salah satunyanya ialah pajak judi yang biasa dilakukan oleh komunitas etnis tertentu. Namun ide ini kemudian mengundang kontroversi.

Meski mengundang kontroversi, terutama dari golongan agamis, Ali Sadikin tidak urung melaksanakan niatnya. Pasalnya ia tahu bahwa kebijakan ini memiliki landasan yuridis. Dengan kata lain, pungutan pajak ini pada dasarnya legal.

Selain itu, bagi Ali Sadikin persoalan masyarakat tidak dapat dilihat hanya dari balik meja. Ia harus turun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan warga, dan mengalami langsung kesulitan yang dihadapi oleh warganya.

Itu sebabnya ia tidak segan untuk berdesak-desakan di dalam bis kota untuk merasakan betapa tidak nyamannya sarana transportasi yang ada kala itu  (Hal. 129).  Karenanya juga ia menjadi tahu bagaimana harus melakukan pembenahan moda transportasi, mulai dari perlunya pemberhentian bis agar moda ini lebih tertib, hingga perlunya penambahan dan pembenahan terminal. Bahkan ia juga mengambil langkah berani meminjam dana dari Amerika untuk menambah armada bis.

Menariknya, Ali Sadikin seakan ingin memangkas birokrasi. Ia enggan kebijakannya direalisasikan dalam waktu yang lama. Itu sebabnya ia kerap melakukan instruksi langsung  di tempat secara spontan. Bahkan hal itu sering bernada perintah yang harus dilakukan segera. Ini dilakukan semata-mata agar warga tidak lebih lama menderita.

Berbagai aspek kehidupan warga kota begitu diperhatikan oleh Ali sadikin. Ia ingin warga merasa lebih diperhatikan dan dimanusiakan. Ini berarti ia ingin warga Jakarta lebih beradab. Kekerasan hatinya sajalah yang dapat mencapai itu semua. Bukan untuk kepentingan sekelompok orang apalagi dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan warga.

KELEBIHAN BUKU

Buku ini dapat menjadi teladan bagi para calon pemimpin Jakarta. Ali Sadikin boleh saja disebut masa lalu. Namun ada pepatah mengatakan, siapa enggan melihat masa lalu, ia buta melihat masa kini.






penalaran deduktif

 Penalaran deduktif
Penalaran adalah sistem berfikir manusia dengan menghubungkan data atau fakta yang ada menjadi suatu simpulan. Menurut Gorys Keraf, penalaran adalah suatu proses berpikir yang menghubungkan fakta – fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan yang logis. Penalaran tidak hanya dapat dilakukan dengan memakai fakta – fakta yang polos, tetapi penalaran juga dapat menggunakan fakta – fakta yang berbentuk pendapat atau kesimpulan.
Penalaran deduktif merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu simpulan. Dalam penalaran deduktif, penulis tidak perlu mengumpulkan fakta-fakta. Yang perlu baginya adalah suatu proposisi umum dan suatu proposisi yang mengidentifikasi suatu peristiwa khusus yang bertalian dengan suatu proposisi umum tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penalaran deduktif merupakan proses penalaran yang bertolak dari  peristiwa-peristiwa yang sifatnya umum menuju pernyataan khusus.
Ada 2 cara dalam penarikan simpulan dalam penalaran deduktif, yaitu penarikan langsung dan penarikan tidak langsung.
1. Penarikan simpulan langsung
Penarikan simpulan langsung diperoleh dari satu premis untuk menghasilkan pernyataan – pernyataan baru.
Contoh :
  • Semua makhluk hidup akan mati.
  • Semua yang akan mati adalah makhluk hidup.
2. Penarikan simpulan tidak langsung
Penarikan simpulan tidak langsung memerlukan 2 premis. Premis yang pertama bersifat umum, sedangkan yang kedua bersifat khusus. Penarikan simpulan tidak langsung terdapat 2 bagian, yaitu silogisme dan entimem.

3.Silogisme
Proses berpikir yang bertolak dari satu atau lebih premis,yakni pernyataan-pernyataan yg mendahului kemudian ditarik kesimpulan menurut prinsip-prinsip logis,perlawanan dan pendasaran yg mencukupi .

4.Silogisme kategorial
Pada silogisme jenis ini terdapat dua premis dan satu kesimpulan .Kedua premis tersebut terdiri dari premis umum dan premis khusus atau disebut juga premis mayor dan minor.

5.Entinem
Semacam silogisme dan silogisme pertimbangan dari segala jenis dan entinem dapat menimbulkan pembuktian .Dengan silogisme di persingkat dan premis akan jarang muncul berulang pada perkataan itu.

Rabu, 03 Juli 2013

SURAT TUNTUTAN KOMPLAIN BARANG DAN JASA


SURAT TUNTUTAN KOMPLAIN TERHADAP BARANG ATAUPUN JASA
YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau disingkat YLKI adalah organisasi non-pemerintah dan nirlaba yang didirikan di Jakarta pada tanggal 11 Mei 1973.
Tujuan berdirinya YLKI adalah untuk meningkatkan kesadaran kritis konsumen tentang hak dan tanggung jawabnya sehingga dapat melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya..
Pada awalnya, YLKI berdiri karena keprihatinan sekelompok ibu-ibu akan kegemaran konsumen Indonesia pada waktu itu dalam mengonsumsi produk luar negeri. Terdorong oleh keinginan agar produk dalam negeri mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia maka para pendiri YLKI tersebut menyelenggarakan aksi promosi berbagai jenis hasil industri dalam negeri.
TATA CARA PENGADUAN KONSUMEN
Untuk memudahkan pengaduan, maka akan dijelaskan bagaimana prosedur untuk dapat mengadu ke YLKI dan bagaimana proses serta mekanisme penanganannya.
Pertamacara yang dapat dilakukan untuk mengadu adalah melalui telepon, surat atau dating lansung. Pengaduan melalui telepon dikategorikan menjadi dua yaitu
  1. hanya minta informasi atau saran (advice), maka telpon itu cukup dijawab secara lisan pula dan diberikan advice pada saat itu dan selesai
  2. Pengaduannya untuk ditindaklanjuti. Jika konsumen meminta pengaduannya ditindaklanjuti, maka si penelepon diharuskan mengirim surat pengaduan secara tertulis ke YLKI
yang berisi :
  1. kronologis kejadian yang dialami sehingga merugikan konsumen
  2. wajib mencantumkan identitas dan alamat lengkap konsumen
  3. menyertakan barang bukti atau fotocopy dokumen pelengkap lainnya (kwitansi pembelian, kartu garansi, surat perjanjian, dll)
  4. Apakah konsumen sudah pernah melakukan komplain ke pelaku usaha. Jika belum pernah, maka konsumen dianjurkan untuk melakukan komplain secara tertulis ke pelaku usaha terlebih dahulu.
  5. Cantumkan tuntutan dari pengaduan konsumen tersebut
 Keduasetelah surat masuk ke YLKI, resepsionis meregister semua surat-surat yang masuk secara keseluruhannya (register I). Selanjutnya surat diberikan kepada Pengurus Harian setidaknya ada tiga yaitu:
(a) ditindaklanjuti/ tidak ditindaklanjuti
(b) bukan sengketa konsumen
(c) bukan skala prioritas. Surat di disposisikan ke Bidang Pengaduan Konsumen dilakukan register II Khusus sebagai data pengaduan.
Ketiga, setelah surat sampai ke personil yang menangani maka dilakukan seleksi administrasi disini berupa kelengkapan secara administrasi.
Proses Administrasi
Langkah selanjutnya dilakukan setelah proses administasi dan analisis substansi, yaitu korespondensi kepada pelaku usaha dan instansi terkait sehubungan dengan pengaduan konsumen.
Pada tahap pertama korespodensi dilakukan bisanya adalah meminta tanggapan dan penjelasan mengenai kebenaran dan pengaduan konsumen tersebut. Di sini YLKI memberikan kesempatan untuk mendengarkan kedua belah pihak yaitu versi konsumen dan versi pelaku usaha. Tidak jarang dengan korespodensi ini kasus dapat diterima masing-masing pihak dengan memberikan jawaban surat secara tertulis ke YLKI yang isinya permintaan maaf kepada konsumen dan sudah dilakukan penyelesaian langsung kepada konsumennya.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan dalam korespodensi ini masing-masing pihak tidak menjawab persoalan dan bersikukuh dengan pendapatnya. Dalam kondisi ini YLKI mengambil inisiatif dan pro aktif untuk menjadi mediator. YLKI membuat surat undangan untuk mediasi kepada para pihak yang sedang bersengketa untuk mencari solusi terbaik.
 Proses Mediasi
YLKI memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya tanpa boleh dipotong oleh pihak lain sebelum pihak pertama selesai memberikan penjelasan. Setelah masing-masing menyampaikan masalahnya, maka YLKI memberikan waktu untuk klarifikasi dan koreksi tentang apa yang disampaikan oleh masing-masing pihak.
Setelah permasalahannya diketahui, maka masing-masing pihak berhak menyampaikan opsi atau tuntutan yang diinginkan, sekaligus melakukan negosiasi atas opsi atau tuntutan tersebut untuk mencapai kesepakatan. Apabila telah dicapai kesepakatan, maka isi kesepakatan itu dituangkan dalam Berita Acara Kesepakatan. Tahap akhir dari proses mediasi adalah mengimplementasikan hasil kesepakatan.
Dalam melakukan penyelesaian kasus secara mediasi, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi yaitu :
  1. terjadinya kesepakatan berarti selesai
  2. tidak terjadi kesepakatan alias deadlock, artinya kasus selesai dalam tingkatan litigasi.
Dari pengalaman yang selama ini ditemui bidang pengaduan, mayoritas kasus dapat diselesaikan dengan tercapainya kesepakatan damai. Walau memang ada satu dua yang mengalami deadlock. Namun proses mediasi lebih efektif dan memudahkan untuk segera terselesaikan kasus yang ada.
CONTOH KASUS: 
Jakarta, Seruu.com -  Peristiwa perampokan dalam taksi yang dialami oleh dua orang remaja putri di kawasan BSD Tangerang masih belum menunjukkan titik terang siapa pelaku dan nama perusahaan taksi yang digunakan.
Peristiwa perampokan itu terjadi, Sabtu, (18/08/2012) lalu. Saat itu dua orang remaja putri NL dan R menyetop taksi putih yang mangkal di depan BSD Junction. Mereka tidak ingat nama taksi yang ditumpangi, hanya mengingat warna taksinya putih.
Atas peristiwa ini Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menyatakan bahwa faktor keamanan di Ibukota sering terabaikan, baik menyangkut kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.
“Kejadian ini adalah potret keamanan ibukota, terlebih kendaraan umum, yang melibatkan interaksi dengan pihak lain,” ujar Tulus Abadi, Pengurus YLKI di Jakarta, Senin (10/09/2012).
“Tugas kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut dan menangkap pelaku, karena kasus ini sudah mengusik keamanan. Kalau memang ini melibatkan sopir, maka pihak dinas perhubungan dan organda harus memperbaiki rekrutmen sopir,” tegas Tulus.
Tulus menambakan, peristiwa ini dan kejadian lain di ibukota menunjukkan semakin pentingnya keamanan bagi warga negara secara umum, lebih-lebih perlindungan bagi para pengguna fasilitas publik atau fasilitas umum.
“Polisi harus menemukan nama perusahaan taksi tersebut, karena sudah dicirikan berwarna putih, tentu saja ini jalan bagi polisi untuk menemukan secepat mungkin,” tambah Tulus.
TANGGAPAN:
Saya mengharapkan agar kasus perampokan yang menimpa dua perempuan di BSD Tangerang, polisi bisa mengungkapnya demi kemanan dan kenyamanan masyarakat. Saya yakin dan optimis dengan kinerja kepolisan untuk mengungkap kasus ini, apalagi korban sudah menyebut ciri warna taksi tersebut, ditambah Polda Metro Jaya dan Polres Tangerang bekerja 24 jam mengungkap kasus ini.


SUMBER :
http://id.wikipedia.org/wiki/Yayasan_Lembaga_Konsumen_Indonesia
http://www.ylki.or.id/tata-cara-pengaduan-konsumen
http://city.seruu.com/read/2012/09/11/118263/kasus-perampokan-taksi-ylki-nilai-keamanan-di-ibukota-terabaikan

Rabu, 01 Mei 2013

ANALISIS FUNDAMENTAL, TEKNIKAL DAN PROGRAM METASTOCK



ANALISIS FUNDAMENTAL, TEKNIKAL DAN PROGRAM METASTOCK

OLEH
PROF. DR. SUKMAWATI SUKAMULJA


I. PENDAHULUAN

Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang mempunyai uang? Menyimpan uangnya dibank dalam ujud deposito dan dapat tidur nyenyak ataukan diinvestasikan kebidang lainnya. Investasi dapat dilakukan di riil asset seperti tanah, rumah, emas, membuka toko, warung, membeli lukisan dan riil asset lainnya. Investasi juga dapat dilakukan di financial asset seperti valas, obligasi, saham, SBI, dan financial asset lainnya (di capital market maupun di money market).
Investasi di pasar modal merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan oleh orang yang ingin melakukan investasi di financial assets.  Penilaian harga sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal perlu dianalisis baik secara fundamental maupun teknikal. Para akademisi lebih cenderung menggunakan analaisis fundamental yang menggunakan ratio-ratio keuangan, prestasi earnings, dan dividen daripada menggunakan analisis teknikal atau sering disebut sebagai tape watcher/chartist yang menitikberatkan pada grafik-grafik yang lebih disukai oleh para praktisi. Dasar pemikirannya adalah pada asumsi yang digunakan.
Akademisi lebih mempercayai bahwa harga yang terjadi di pasar saham bersifat Identically Independent Distributed (IID) atau terdistribusi secara identik dan independen, tidak ada hubungan kausalitas antara harga historis, harga sekarang, maupun harga dimasa akan datang. Harga yang terjadi benar-benar saling asing karena dasar pemikirannya pada teori random walk. Teori ini menyatakan bahwa harga yang terjadi bersifat random dan tidak berpola serta tidak dapat dipengaruhi dan tidak dapat diprediksikan. Dalam jangka panjang untuk menilai harga saham diperlukan prediksi berdasarkan atas harga teoritis atau nilai intrinsiknya. Future earning merupakan pedoman yang penting yang tercermin pada ekspektasi dividen. independen, tidak ada hubungan kausalitas antara harga historis, harga sekarang, maupun harga dimasa akan datang.
Kebalikannya, para praktisi lebih mempercayai pada analisis teknikal yang tidak terlalu risau dengan pertimbangan future earning dan dividen. Dasar pemikirannya adalah tidak seorangpun yang tahu secara pasti apa yang akan mempengaruhi prospek earning maupun pembayaran dividen (Malkiel, 1990: 31). Yang terpenting adalah bagaimana memprediksikan rata-rata opini yang akan terjadi dan  belajar dari  hal-hal  dimasa  lalu agar tidak mengalami hal yang
sama dimasa depan. Artinya, kecenderungan atau trend harga merupakan faktor penting dari analisis teknikal. Selain trend rata-rata pergerakan (moving average) juga dipergunakan untuk menaksirkan rata-rata opini yang tercermin pada gerakan harga.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal kedua pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam menilai harga saham dan membantu membuat keputusan investasi. Untuk analisis fundamental dapat dipelajari pada text book investasi, teori portfolio dan manajemen risiko. Analisis teknikal banyak dipelajari dalam training-training pasar modal. Paper ini, penekanan pada kiat-kiat menilai saham dan bagaimana teknik untuk memperoleh gain di pasar modal dengan menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal serta software yang biasa digunakan dalam analisis teknikal, yaitu Metastock.
Paper ini disusun dengan urutan bab I adalah Pendahuluan, dilanjutkan bab II. mengungkapkan kiat-kiat dalam berinvestasi di pasar saham. Bab III mengenai analisis fundamental, Bab IV analisis teknikal diteruskan dengan bab V pengoperasian program metastock.

II. KIAT-KIAT BERINVESTASI DI PASAR SAHAM

Sebelum membicarakan kiat-kiat berinvestasi di pasar saham perlu diketahui lebih dahulu mitos-mitos yang terjadi di pasar saham yang sering menjerumuskan calon investor dan investor dalam pengambilan keputusan berinvestasi (Diliddo, 1998).

A. Mitos dalam Pasar Saham


Ada lima (5) buah mitos dalam pasar saham.

  1. Price to earning ratio (P/E) memberikan informasi bahwa apakah suatu saham mahal atau murah. 

Rasio P/E mudah diketahui baik dari koran, majalah, ataupun publikasi laporan saham (misal, Bisnis Indonesia, Warta Ekonomi, Wall Street Journal) tetapi P/E tidak memberikan arti apapun untuk menilai saham. Tidak bisa dengan mudahnya membandingkan suatu perusahaan A yang mempunyai P/E 7 dengan saham B yang mempunyai P/E 14 dan kemudian dikatakan bahwa perusahaan dengan P/E 14 mencerminkan harga yang lebih murah atau justru lebih mahal. Dibutuhkan informasi lainnya. Yang dibutuhkan investor adalah value to price ratio. Dengan value to price ratio investor dapat menentukan dengan cepat apakah suatu saham dijual dengan harga yang murah atau mahal. Untuk mengetahui value to price ratio dibutuhkan rumus dan teori mengenai nilai intrinsik yang cukup komplek dan membutuhkan lebih banyak waktu. Untuk keputusan segera value to price ratio tidak cocok untuk digunakan.

  1. Adanya asumsi bahwa risiko yang tinggi diperlukan untuk membuat banyak uang dalam pasar saham.

Persepsi mengenai risiko tinggi dalam melakukan investasi tidak semata-mata tanpa alasan. Menginvestasikan uang dalam saham adalah jalan yang terbaik dari rata-rata orang untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kadang lebih aman daripada menginvestasikan uang pada real estate, lukisan atau benda-benda antik, ataupun pada real assets lainnya. Investor dapat memperoleh banyak uang dalam membeli saham pada risiko yang rendah jika:
    1. membeli saham dengan konsisten dengan predictable earning growth;
    2. membeli saham dengan earning growth rates yang sama atau lebih besar dari jumlah tingkat inflasi sekarang dan tingkat bunga yang berlaku;
    3. jangan investasikan lebih dari 10% uangmu dalam satu buah saham saja;
    4. jangan memiliki lebih dari 2 saham dalam industri yang sama;
    5. jangan masukkan seluruh uangmu dalam pasar saham tetapi distribusikan ke investasi lain sepanjang waktu;
    6. membatasi risiko dengan menggunakan stop-sell order dan stop-loss (prosentase dalam menanggung rugi untuk menghindari kerugian lebih banyak).
Saham dengan predictable earnings growth yang konsisten adalah saham teraman yang dapat dibeli. Sebuah portofolio dengan rata-rata earnings growth rate paling minim 14% per tahun mempunyai kemungkinan nilainya akan menjadi dua kali lipat dalam lima tahun. Dalam 20 tahun nilainya akan meningkat 1.500 %. Jika anda membeli 10 buah saham dan memberi batasan kerugian pada setiap saham maksimal 10% dengan menggunakan stop-sell orders, maka risiko portofolio totalnya hanya 10% karena risiko untuk setiap saham hanya 1%. Adakah investasi lain yang seaman ini?

  1. Membeli saham pada saat harga turun dan menjualnya pada saat harga naik

Mitos ini adalah kata-kata bijak kumo yang menyatakan bagaimana memperoleh uang dalam pasar saham, yaitu membeli rendah dan menjual tinggi. Hal ini tidak benar. Persoalan ini timbul karena investor bingung dengan pendapat konvensional yang mengasumsikan bahwa jika harga saham bergerak turun berarti harga rendah dan jika harga bergerak naik berarti harga tinggi. Sebagai konsekuensinya, investor membeli saham pada saat harga turun dan menjualnya pada harga tinggi. Hal ini merupakan suatu keputusan yang buruk. Seharusnya, saham dibeli karena ada ekspektasi harga akan naik, dan sebaliknya jika ekspektasinya harga akan turun. Jadi logika yang benar adalah membeli saham pada saat harga mulai naik dan menjualnya pada saat harga mulai turun. Yang terbaik untuk membeli saham adalah pada saat harga dititik balik ke atas (concave) di atas harga old high-nya. Pada saat ini jika saham dinilai dengan benar (fairly valued) maka tidak akan terjadi kerugian dan harga akan melaju naik.

  1. Untuk menghindari inflasi dilakukan hedging

Bertahun-tahun para broker saham dan salesmen danareksa selalu menyatakan bahwa saham sebaiknya di hedge untuk menghindari risiko adanya inflasi. Pernyataan tersebut dapat dikatakan benar tetapi juga dapat dikatakan salah, tergantung darimana kita melihatnya. Kenaikan inflasi akan menyebabkan kenaikan suku bunga. Pada kondisi demikian investor dapat mengatakan behwa “saya bisa memperoleh uang banyak dengan bunga obligasi yang tinggi (sebagai catatatan:  obligasi dengan floating rate) sehingga mengapa saya harus tetap menginvestasikan uang saya di saham?” Sebagai akibatnya investor akan menjual sahamnya dan harga saham akan turun. Hal lain akibat adanya inflasi yang pasti akan menyebabkan tingkat bunga meningkat (Fisher effect) dan menyebabkan cost of business juga meningkat, lanjutannya corporate earning akan turun dan harga saham akan turun pula.  Jika demikian halnya mengapa disebutkan bahwa saham harus di hedge untuk menghindari inflasi? Hal itu disebabkan orang akan dapat memperoleh uang lebih cepat daripada  inflasi itu sendiri. Yang harus dilakukan justru menginvestasikan uangnya pada saham yang mempunyai earning growth rates yang lebih tinggi daripada jumlah inflasi dan tingkat bunga jangka panjangnya. Bila hal ini dilakukan maka harga saham akan naik lebih cepat daripada kenaikan inflasi dan selalu satu langkah di depan kenaikan inflasinya.

  1. Orang muda dapat menerima risiko yang lebih tinggi

Mitos ini salah besar dan terbodoh dari semua mitos-mitos lainnya. Orang yang lebih tua  memang lebih hati-hati dan konservatif dalam melakukan keputusan karena earnings power mereka yang lebih terbatas, tetapi bukan berarti yang muda akan menerima  risiko lebih banyak. Orang yang lebih muda justru lebih memperhatikan rupiah demi rupiah uangnya karena mereka membutuhkan untuk memulai kehidupan keluarga dan kariernya. Semua orang tidak menginginkan untuk menerima risiko yang lebih besar baik orang tua maupun orang muda (in finance we always say we are risk averter”).


Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan dalam berinvestasi di pasar saham (Krass, 1999).

  1. Gunakan pialang yang bonafit

Ada empat jenis pialang dalam pasar modal, yaitu (1) perantara, (2) penasihat investasi, (3) manajemen investasi, dan (4) underwriter (penjamin emisi). Dalam memilih satu dari 186 pialang di Indonesia  perlu diingat bahwa pialang yang berpengalaman dan dapat dipercaya, sesuai dengan kebutuhan, didukung oleh permodalan yang cukup dengan sistem operasional yang baik serta fasilitas kemudahan akan amat membantu investor melalukan investasinya

  1. Membeli saham secara bijaksana

Dalam membeli saham harus bijaksana, realistis, dan tidak dipengaruhi oleh emosi dan sifat serakah. Bersikap bijaksana dan hati-hati adalah konsep yang harus selalu diingat dalam berinvestasi. Dalam pasar modal disebut prinsip caveat emptor. Ada empat jenis saham yang dapat dibeli, yaitu: (1) income stock, saham dengan pembayaran dividen yang tinggi dan ajeg, disukai oleh investor dari dana pensiun, asuransi, dan institusi yang membutuhkan kepastian pendapatan; (2) total return stock, perusahaan dengan kebijakan membagikan dividen tinggi sekaligus juga sedang masuk dalam periode primadona, merupakan perusahaan besar yang sedang naik daun; (3) growth stock, saham yang lebih menitik beratkan pada pertumbuhan dan investasi perusahaannya dan tidak pada pertumbuhan dividen, biasanya dari perusahaan berskala kecil-menengah yang sedang tumbuh; dan (4) speculative stock, saham yang volatilitasnya besar selalu berfluktuasi dan bersifat tidak stabil, investor yang memilih jenis saham ini harus hati-hati karena dapat memberikan gain besar sekaligus juga dapat memberikan loss tinggi. Pengaturan waktu “masuk” dan “keluar” perlu diperhatikan.

  1.  Lebih menggunakan otak daripada luck

Berinvestasi bukanlah judi sehingga perlu persiapan pengetahuan lebih dahulu daripada hanya sekedar mendasarkan pada “keberuntungan” semata. Overtrading melebihi margin yang dimiliki amat tidak dianjurkan karena mendorong investor bersifat addict (kecanduan), denda yang dikenakan jika overtrading/overlimit adalah 36% pertahun. Untuk melakukan investasi jika tidak mempunyai kemampuan yang cukup sebaiknya meminta bantuan manajer investasi yang berlisensi atau membeli reksadana. Melakukan diversifikasi investasi amat dianjurkan sesuai konsep “don’t put all your eggs in one basket.” Risiko harus dibagi ke dalam beberapa jenis investasi agar dapat mengurangi kerugian yang harus ditanggung. Ada tiga faktor yang diantisipasi oleh seorang investor (Sheimo, 1999): (1) real factor, faktor yang senyatanya mendorong pergerakan harga saham, yaitu tingkat suku bunga dan laba emiten, (2) imagined factor, merupakan opini, sikap, dan analis ekonomi, dan (3) fabricated factor, sikap investor menanggapi kedua faktor di atas yang tercermin dalam keputusan membeli/menjual karena persepsi, emosi, reaksi, dan antisipasi para investor (sering menjurus pada reaksi yang berlebih/overreact).


  1. BerInvestasi dalam jangka panjang

Bursa efek merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai optimisme tinggi. Bila investor percaya akan harga saham selalu berulang mengikuti pola tertentu (berkebalikan dengan sifat IID), maka berinvestasi dalam jangka panjang akan menghindari adanya sentimen dan tekanan fluktuasi jangka pendek. Time horizon panjang akan menyebabkan compounding effect dapat bekerja secara optimum. Sentimen dan tekanan jangka pendek yang mengaburkan dapat dinetralisir dengan investasi jangka panjang. Investasi dalam 1 tahun merupakan pilihan yang cukup baik bagi para investor dan lebih pendek untuk para spekulator.

5.    Membiasakan diri untuk mengikuti perkembangan informasi di bursa saham

Mencari informasi dari internet, koran, TV, dan summary pasar modal amat dianjurkan. Mengikuti investment club atau perkumpulan yang membahas dan mempelajari kiat-kiat bisnis di pasar saham amat membantu meningkatkan pengetahuan Di USA ada National Association of Investors Corporation (NAIC) dan di Indonesia Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISI) merupakan asosiasi yang membantu para investor membentuk serta mengoperasikan klub investasi. Kursus-kursus  security analyst, investment management, dan technical analysis dapat membantu menambah pengetahuan investor.  Konsep “your best financial planner is you,” merupakan konsep bijak yang perlu diikuti.

6.    Memperoleh undervalued gain di IPO (Initial Public Offering)

Berdasarkan atas riset di USA, Eropa, dan di emerging capital market, saham yang dijual pada IPO atau pasar primer, harganya hampir selalu undervalued. Strategi undervalued dilakukan agar saham baru ini mempunyai god signal, mempunyai prospek baik. Instant gain yang diperoleh pada pasar perdana dapat hanya dalam hitungan hari atau minggu. Banyaknya permintaan pada IPO dengan harapan akan mendapatkan instant gain sering menyebabkan adanya oversubscription, adanya penjatahan pembelian. Oversubscription memberikan kesan pada pembeli yang tidak mendapatkan sejumlah besar saham yang diinginkan untuk menaikkan harganya di gray market.

  1. Memilih saham dalam prospek industri yang akan menjadi primadona

Pengalaman Fidelity Magelland Fund, sebuah perusahaan Danareksa di USA melalui CEO-nya, Peter Lynch, Morris Smith, dan Jeffrey Vinik, amat sukses memperoleh tenbagger atau keuntungan 10 kali lipat dari industri berbasis teknologi di tahun 1995 yang pada saat itu menjadi primadona di USA serta mengungguli pendapatan S&P 500 (Bruner, 2003). Keberhasilan Magelland Fund tidak semata-mata karena faktor luck tetapi karena dukungan 100 orang periset yang dimilikinya.  Melihat posisi product life cycle suatu industri akan membantu investor untuk memprediksikan prospek saham yang dibeli.

  1. Menanti technical rebond untuk mendapat gain besar

Pada saat pasar lesu dan kondisi kacau yang dipicu oleh overreact investor, laba besar masih mungkin untuk diperoleh. Buy when there is blood in the street, pepatah itu banyak dilakukan oleh Magelland fund yang justru membeli saham pada saat orang panik yang dipicu oleh emosi yang berlebih. Dalam pasar modal ada suatu pola yang selalu terjadi yaitu bila saham sudah turun pasti suatu saat nanti akan berubah arah (technical rebound) dan akan naik, sebaliknya jika harga saham naik suatu saat akan berbalik arah dan akan turun. Investor tetap dapat memperoleh keuntungan dari kondisi seperti ini asalkan investor sabar menunggu saatnya tiba. Investasi jangka panjang dapat menetralisir penurunan yang terjadi dengan menanti terjadinya rebound. Pertanyaannya, untuk berapa lama investor harus menunggu? Buy on the rumors and sell on the news, jika yakin bahwa penurunan yang terjadi lebih-lebih diakibatkan rumors, maka membeli saham yang dijual karena kepanikan dan menjualnya kembali pada saat kondisi membaik. Sebagai catatan: jika harga turun sampai 30% perhari akan ada otomatic rejection oleh bursa (suspend)

  1. Beware! The thundering herd will be blundering herd

Investor institusi (dana pensiun, kesejahteraan karyawan, asuransi, dan reksadana) dengan dananya yang amat besar mendominasi perdagang-an. Diasumsikan investor institusi sebagai kawanan hewan yang bergemuruh menuju kesuatu arah, thundering herd. Gemuruhnya investor institusi banyak mengundang investor individu untuk mengikutinya (hal ini terjadi juga bagi investor domestik yang mengikuti investor asing). Kesalahan analisis investor institusi yang dengan mudah mengalihkan dananya akan menjadi bumerang bagi investor individu yang mengikutinya karena akan menjadi blundering herd, tergilas.  Saham yang dibeli oleh investor institusi yang tidak bergerak atau bergerak amat tipis, tetap dapat menguntungkan bagi investor institusi karena jumlah dana yang besar. Untuk perusahaan individu, perubahan yang amat kecil hanya cukup untuk menutup biaya transaksi (0,3% untuk beli dan 0,4% jual dengan biaya transaksi minimal sebesar Rp20.000) dengan perubahan tick. Kenaikan/penurunan satu tick berbeda-beda sesuai dengan harga saham:

0 - Rp500                   = Rp5,-
Rp500 - Rp5000       = Rp 25
>Rp 5000                   = Rp 50

  1. Membeli saham yang menawarkan buyback

Buyback artinya ada opsi dibeli kembali oleh emiten yang mengeluarkan saham tersebut.  Opsi ini menjadi suatu tawaran yang menarik karena memberikan indikasi bahwa saham tersebut cukup menarik dan menjanjikan dimasa depan. Contoh saham Aqua yang banyak menawarkan buyback walaupun banyak investor yang lebih menyukai untuk mempertahankannya (hold) daripada menjualnya kembali. Strategi buyback ini sering digunakan oleh emiten untuk meningkatkan harga. Buyback berdasarkan aturan bursa hanya dibatasi 10% dari jumlah saham yang beredar untuk menjaga likuiditas. Perlu diwaspadai bahwa strategi buyback digunakan emiten untuk melakukan window dressing, menutupi kondisi fundamental emiten senyatanya.


B. Bagaimana Memilih Saham?
Aturan-aturan yang masuk akal berikut ini merupakan pedoman dalam memilih saham yang akan dibeli di pasar.

  1. Sebaiknya memilih saham yang undervalued

Bijaksana jika memilih saham yang mempunya pengalaman memberikan earnings yang konsisten dan growing earning yang cepat. Jika nilai saham lebih tinggi dari harganya maka harga disebut undervalued, maka saham jenis ini adalah kandidat untuk dipilih. Saham yang undervalued akan memberikan kesempatan sebagai “winner” dan menghindari dari risiko bila dibandingkan dengan saham yang overvalued.

  1. Sebaiknya memilih saham yang aman

Harga beberapa saham bagaikan sebuah yoyo yang naik-turun (di Indonesia misalnya pada tahun 2002, Tambang Timah/TINS dan saham-saham bank) dan selalu  menimbulkan berita, tetapi ada pula saham yang selalu stabil tenang tidak terlalu berfluktuasi (contoh misalnya, Uniliver, dan  HM Sampurna). Kelompok saham pertama mempunyai volatilitas tinggi sebagai pencerminan ketakutan,  kekawatiran, dan ketidakpastian dimasa depan,  sedangkan kelompok lainnya  mempunyai track records earnings performance yang stabil. Volatilitas harga dan peningkatan risiko disebabkan oleh berbagai macam hal seperti, rumors (di Indonesia amat kental nuansanya), pembunuhan secara politik, bencana alam, kondisi keamanan dan lain sebagainya yang menimbulkan kekalutan dan ketidakpastian. Shareholders dengan tingkat kepercayaan yang kecil akan mudah sekali overreact dengan adanya bad news ini. Akibatnya, harga saham dengan earnings performance yang tidak konstan akan lebih menderita bila hal-hal buruk tersebut terjadi. Saham dengan earning yang dapat diprediksikan dan kontinyu akan lebih kuat bertahan dari semua goncangan tersebut. Jelasnya, akan kurang berisiko jika membeli saham dengan kondisi finansial yang stabil daripada perusahaan yang labil (sebagai catatan: saham-saham bukan first layer dapat pula  memberikan gain lebih besar jika terjadi overreact hyphotesis).

  1. Sebaiknya memilih saham yang harganya sedang naik

Yang paling sulit bagi para investor adalah membeli saham pada saat harga sedang naik. Sebagian dari para investor akan berfikir untuk menunggu sampai harga saham turun sebelum membelinya. Ide membeli saham pada harga rendah masuk akal tetapi itu merupakan kesalahan. Pertama, investor akan kehilangan kesempatan karena saham yang baik tidak akan turun begitu harganya naik. Membeli saham pada harga rendah dan menjualnya pada harga tinggi memang impian setiap orang tetapi seringkali kita tidak pernah tahu  kapan titik terendah terjadi dan kapan titik tertinggi dapat diraih.

III. ANALISIS FUNDAMENTAL
A. EFFICIENT MARKET THEORY
Efficient Market Theory (Teori Pasar Efisien) mengatakan bahwa harga sekuritas dinilai secara pas dan benar serta merefleksikan semua informasi dan ekspektasi investor. Teori ini menyatakan bahwa investor tidak dapat mendapatkan keuntungan dari pasar saham secara konsisten karena pasar mengikuti IID (Identically Independent Distributed). Pasar bereaksi sesuai dan segera setelah informasi baru datang. Oleh karena itu diasumsikan bahwa pasar mempunyai harga yang pas/tepat tidak terjadi undervalued atau overvalued untuk semua sekuritas dalam jangka waktu lama sehingga dapat diperoleh keuntungan dari transaksi beli/jual.
Menurut teori pasar efisien, harga mencerminkan semua informasi yang tersedia dan informasi datang secara random/acak sehingga investor tidak akan mendapatkan keuntungan walau menggunakan semua tipe teori yang ada, baik fundamental maupun teknikal. Pasar efisien jika informasi sempurna atau simetris. Informasi disebut sempurna jika memenuhi tiga syarat, yaitu (1) secara kualitas (quality), (2) waktu (time), dan persepsi (perception) diterima sama oleh semua fihak. Informasi simetri jika diasumsikan bahwa setiap detail informasi telah dikumpulkan dan diproses oleh ribuan investor dan informasi tersebut (baik yang lama atau baru) sudah dinilai secara tepat yang tercermin pada harga yang terbentuk.
Dalam kenyataanya informasi tidak bisa fully efficient tetapi economically efficient, yaitu secara weak-form bila informasi pasar yang diketahui; semi-strong form berdasarkan atas informasi yang dipublikasikan; dan strong-form jika semua informasi baik pasar, publik, maupun privat diketahui. Pengujian weak-form efficient dengan melihat anomali pasar (overreact hypothesis). Pengujian semi-strong melalui event study dengan melihat abnormal return sebelum, saat dan sesudah event terjadi. Pengujian strong-form dilakukan dengan memasukkan semua unsure informasi yang ada.
Return tidak dapat ditingkatkan dengan mempelajari data saham historis, baik menggunakan  fundamental maupun teknikal karena data lampau tidak berpengaruh terhadap harga kini dan harga diwaktu yang akan datang.Persoalan yang timbul pada analisis fundamental dan teknikal adalah keduanya melakukan ekspektasi berdasarkan pada harga saham masa lampau.  Menurut teori pasar efisien, return tidak dapat diperoleh walaupun investor telah menggunakan indikator analisis teknikal yang mempunyai  track record hebat,  kondisi oversold, maupun menggunakan trend industri dls. Sebaliknya, informasi tidak simetri atau pasar tidak efisien jika ekspektasi investor dapat mengendalikan harga. Artinya, harga masa lampau mempunyai pengaruh yang signifikan mempengaruhi harga yang akan datang.
B. FUNDAMENTAL ANALYSIS
Fundamental analysis (analisis fundamental) merupakan analisis mengenai ekonomi, industri, dan perusahaan yang menentukan nilai saham perusahaan. Analisis fundamental memfokuskan pada statistik laporan keuangan perusahaan untuk menentukan harga saham dinilai secara tepat. Sebenarnya, dalam menganalisis nilai suatu saham akan lengkap jika menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal.
Analisis fundamental digunakan sebagai penunjuk arah/baromenter jangka panjang (long-term point of view). Analisis fundamental melihat perkembangan rasio-rasio keuangan dari sisi likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, market to book value analysis, turnover, dan kebijakan keuangan perusahaan dalam melakukan investasi dan pendanaan. Selain itu, perkembangan kinerja dan kebijakan dividen dapat melengkapi analisis fundamental.
Analisis teknikal lebih bersifat jangka pendek karena hanya menggunakan harga saham historis (merupakan last done) sebagai pedoman. Sering terjadi mengaplikasikan analisis teknikal ke grafik dengan menggunakan data fundamental, misalnya membandingkan trend tingkat bunga dengan perubahan harga sekuritas. Juga populer menggunakan analisis fundamental untuk memilih sekuritas dan kemudian menggunakan analisis teknikal untuk melihat perdagangan secara individual. Investor akan mendapatkan keuntungan jika menggunakan kedua analisis.
Kebanyakan informasi fundamental memfokuskan pada statistik ekonomi, indusrtri, dan perusahaan. Ada empat konsep dasar dalam melakukan analisis. Pendekatan yang digunakan untuk menganalsis sebuah perusahaan dilakukan melalui empat tahap (top-down analysis)
1.    melihat kondisi ekonomi secara umum (economic aspect);
2.    melihat kondisi industri (industry aspects);
3.    melihat kondisi perusahaan (company aspects);
4.    melihat nilai saham perusahaan (stock valuation).
 
1. Economic Analysis (Analisis Ekonomi)
Ekonomi dipelajari untuk menentukan kondisi secara makro/keseluruhan untuk melihat lingkungan pasar saham pada saat ini kondusif/tepat atau tidak. Apakah inflasi perlu diwaspadai? Apakah tingkat bunga cenderung naik atau turun? Berapa penghasilan rata-rata masyarakat saat ini yang mampu untuk investasi? Berapa konsumsi masyarakat saat ini? Bagaimana neraca pembayaran negara saat ini, defisit atau surplus? Apakah money supply saat ini diperbanyak atau dikurangi (tight money policy)? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hal-hal yang perlu diketahui untuk menentukan kondisi ekonomi, apakah kondusif untuk berinvestasi di pasar saham.
Aspek ekonomi dapat bersifat internasional, regional, dan nasional baik secara  makro maupun mikro. Lingkungan ekonomi internasional, lingkungan ekonomi domestik, dan lingkungan bisnis. Contoh harga minyak dunia; harga emas dunia; tingkat bunga dunia, regional dan nasional; inflasi; nilai tukar; kondisi  politik; neraca pembayaran; cadangan devisa; dan bencana alam.
2. Industry Analysis
Industri perusahaan jelas mempengaruhi perusahaan. Analisis industri merupakan lingkungan industri untuk melihat prospect of industry. Misal, tahun 2006: jangka panjang: pertambangan, gas, dan energi; telekomunikasi; jangka menengah: infrastruktur dan properti serta pendukungnya; jangka pendek: tergantung fluktuasi musiman, seperti pertanian, makanan). Jangka panjang dan menengah digunakan untuk real gain, jangka pendek digunakan untuk netting.
 Mengetahui kondisi industri perusahaan amat penting. Walaupun saham yang bagus tetapi jika berada dalam industri yang sedang mengalami kesulitan, maka return yang diperoleh hanya cukup saja. Ada suatu pepatah yang menyatakan bahwa a weak stock in a strong industry is preferable to a strong stock in a weak industry. Jadi, saham yang tidak bagus tetapi dalam industri yang bagus lebih menguntungkan daripada saham bagus dalam industri buruk.


3. Company Analysis
Analisis perusahaan digunakan untuk mengetahui kesehatan finansial perusahaan yang bersangkutan. Untuk mengetahui kesehatan keuangan perusahaan dilakukan dengan mempelajari laporan keuangan. ratio keuangan, dan cash flow.
 Rasio-rasio keuangan dihitung dari laporan keuangan. Ada lima kelompok rasio keuangan, yaitu profitability (keuntungan), price (harga), liquidity (likuiditas), leverage (hutang), dan efficiency (efisiensi). Untuk melihat kinerja perusahaan melalui rasio keuangan, biasanya dibandingkan dengan perusahaan lainnya dalam industri yang sama untuk menentukan posisi perusahaan  apakah "normal" atau “tidak normal.” Selain di bandingkan dengan perusahaan lain, kinerja keuangan juga dapat dibandingkan dengan pasar (diwakili dengan indeks). Berikut ini adalah rasio-rasio yang biasa populer digunakan.
a. Net Profit Margin (NPM).
Rasio profitabilitas NPM  dihitung dari Net Income (laba bersih) dibagi dengan Total Sales (jumlah penjualan).
            Net Income
NPM = ---------------
            Total Sales
Rasio ini mengindikasikan berapa banyak keuntungan perusahaan yang di dapatkan dari setiap rupiah penjualan yang terjadi.  Sebagai contoh, NPM = 30% mengindikasikan bahwa Rp0,30 dari setiap Rp1 penjualan menghasilkan keuntungan.
b. P/E Ratio (Price/Earnings ratio).
Rasio P/E adalah rasio harga yang dihitung dari current stock market price (harga pasar saham saat ini) dibagi dengan  earnings per share (EPS) atau (pendapatan perlembar saham) 4 triwulan yang lalu. EPS diperoleh dari net income (laba bersih) atau earning after tax (EAT) dibagi dengan total share outstanding (jumlah lembar saham yang beredar).
            Current stock market price                         Net Income (EAT)
P/E = ------------------------------------                EPS =  ------------------------
                        EPS                                                    Total share outstanding
Rasio  P/E memperlihatkan berapa yang harus dibayar oleh investor untuk “membeli” Rp1 earning perusahaan.  Sebagai contoh, jika harga pasar sekarang dari sebuah saham adalah Rp2000 dan EPS 4 triwulan yang lalu adalah Rp 200, maka rasio P/E adalah 10 (Rp2000 / Rp200 = 10). Artinya, investor harus membayar Rp10 untuk “membeli” Rp1 earning perusahaan.  Tentunya, ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan diwaktu yang akan datang memegang peranan penting dalam mementukan rasio P/E perusahaan. Pendekatan umum yang biasa digunakan adalah dengan membandingkan dengan P/E perusahaan lain dalam industri yang sama. Jika hal lainnya tetap, maka perusahaan dengan rasio P/Eyang rendah mempunyai nilai lebih baik. 
c. Book Value Per Share.
Book Value (nilai buku) perusahaan adalah rasio harga yang dihitung dengan membagi total net assets (aset dikurangi hutang) dengan total shares outstanding (jumlah lembar saham yang beredar). Nilai buku tergantung pada metode yang digunakan dan umur aset. Nilai buku berguna untuk menentukan apakah saham  overpriced (dinilai terlalu tinggi) atau under-priced (dinilai terlalu rendah). Apabla sebuah sekuritas dijual pada harga jauh di bawah nilai buku, maka diindikasikan bahwa sekuritas tersebut adalah under-priced.
                                                 Total net assets
Book Value per share =  --------------------------------
                                           Total shares outstanding

Total net assets = Total assets-liabilities

Bila market value (harga pasar) > book value, maka saham overpriced/ overvalued ® strategi: jual saham
Bila market value < book value, maka saham under-priced/undervalued ® startegi: beli saham
d. Current Ratio
Current ratio adalah rasio likuiditas, dihitung dari current assets (aset lancar) dibagi dengan current liabilities (hutang lancar). Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Makin tinggi rasio, maka perusahaan makin likuid. Sebagai contoh current ratio 3.0, artinya aktiva lancar perusahaan jika dilikuidasi dapat digunakan untuk membayar 3 kali hutang lancar perusahaan.
                             Current Assets
Current Ratio = ------------------------
                             Current Liabilities 


e. Debt Ratio
Debt ratio perusahaan adalah leverage ratio (rasio hutang) dihitung dari total liabilities di bagi dengan total assets. Rasio ini mengukur seberapa besar aset total yang didanai oleh hutang. Sebagai contoh, debt ratio 40% mengindikasikan bahwa 40% aset perusahaan telah didanai oleh hutang.  Hutang bagaikan pedang bermata dua. Pada kondisi ekonomi buruk (resesi) atau tingkat bunga tinggi, maka perusahaan dengan rasio hutang tinggi akan mengalami problem keuangan. Sebaliknya, dalam keadaan ekonomi baik (boom), maka  hutang dapat digunakan untuk memacu mendapatkan keuntungan lebih besar melalui tingkat pertumbuhan keuangan pada biaya rendah.
                    Total liabilities
Debt ratio = ------------------
                    Total assets
f. Inventory Turnover
Inventory turnover perusahaan adalah rasio efisiensi yang dihitung dengan membagi  cost of goods sold (harga pokok penjualan) dengan inventories (persediaan barang dagangan). Rasio ini mencerminkan efektifitas manajer perusahaan dalam memanajemeni persediaan barang dagangannya melalui berapa kali per tahun persediaan beralih tangan. Tentu saja rasio ini tergantung pada industrinya. Toko seperti Alfa, Makro, Indo Grossir, atau Carrefour mempunyai turnover yang lebih tinggi daripada perusahaan penerbangan. Oleh karena itu amatlah penting untuk membandingkan dengan perusahaan lain dalam suatu industri yang sama.
                                    Cost of goods sold
Inventory turnover = ------------------------
                                         inventories
Cost of goods sold = persediaan awal + pembelian – persediaan akhir
Selain rasio-rasio di atas, masih banyak rasio-rasio lain yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan seperti:
Kelompok liquidity ratio (short-term solvency)
                          Current assets                                          Current assets-Inventory
Current ratio = -------------------                    Quick ratio = ---------------------------------
                          Current liabilities                                            Current liabilities

                                   

Cash                                                              Current assets
Cash ratio = --------------------------                Interval measure= ------------------------
                        Current liabilities                              Average daily operating cost

                                                                 Net working capital
Net working capital to total assets = ---------------------------
                                                                        Total assets
Kelompok long-term solvency atau financial leverage ratio
                          Total assets-Total equity                                               Total debts
Total debt ratio = ---------------------------        Debt-equity ratio = -------------------
                                    Total assets                                                          Total equity

                                    Total assets                                             EBIT + Depreciation
Equity multiplier = -------------------    Cash coverage ratio= ------------------------         
                                    Total equity                                                              Interest

                                                Long-term debt
Long-term debt ratio = -----------------------------------
  Long-term debt + total equity

                                                            EBIT
Times interest earned ratio = -----------------
                                                            Interest
Kelompok asset utilization (turnover) ratio
                                    Cost of goods sold                                                            365
Inventory turnover = -----------------------    Days’ sales in inventory = --------------
                                          Inventory                                                Inventory turnover

                                               
Sales                                                                        365
Receivable turnover = ---------------------    Days’ sales in receivables = ------------
                                    Account receivable                                Receivable turnover

                                                   Sales                                                           Sales
Net working capital turnover = ---------   Fixed asset turnover = -------------------
                                                    NWC                                              Net fixed assets

                                                Sales
Total asset turnover = -------------------
                                          Total assets


Kelompok profitability ratio

                             Net income                                                          Net income
Profit margin= --------------------       Return on assets (ROA) = ------------------
                                 Sales                                                                 Total assets
                        
         Net income                                                        Net income
Return on equity (ROE) =---------------      Return on Investment (ROI) = -----------
                                                Total equity                                         Total investment

Du Pont Identity

Du Pont identity membagi ROE ke dalam 3 bagian, yaitu operating efficiency (diukur dengan profit margin), asset use efficiency (diukur dengan total asset turnover) dan financial leverage (diukur dengan equity multiplier)
                                                   
            NI        NI        Assets       NI            Assets
ROE = --- = ------- X   -------- = --------- X  --------
            TE       TE       Assets    Assets       TE



            Sales          NI            Assets       NI            Sales     Assets
ROE = --------- X  --------  X  --------  =  --------- X ---------  X  ------
            Sales       Assets        TE           Sales        Assets       TE


 


                                                                             ROA

ROE = Profit margin X Total assets turnover X Equity multiplier

ROE  = ROA X Equity multiplier = ROA X (1 + Debt-equity ratio)

                                               
Kelompok market value ratio

                                    Price per share
Price-earning ratio = ------------------------              
                                    Earnings per share

                                       Market value per share
Market-to-book ratio = ------------------------------
                                       Book value per share

C. PENILAIAN HARGA SAHAM
Setelah melihat kondisi ekonomi, industri, dan perusahaan, analis fundamental memperkirakan saham perusahaan apakah overvalued, undervalued, atau correctly valued (pas/tepat/wajar). Beberapa model penilaian dapat digunakan untuk menilai harga suatu saham. Dalam penilaian tersebut termasuk juga menggunakan model dividen (dividend model) yang memfokuskan pada harga sekarang melalui besarnya saham yang diekspektasikan; model earning (earnings model), fokus terhadap ekspektasi earnings; dan model aset (asset model), fokus terhadap nilai aset perusahaan.
Dividen perusahaan merupakan pencerminan atas current performance (kinerja perusahaan sekarang) dan future prospect (prospek dimasa depan). Earnings merupakan pencerminan prestasi perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Earnings berasal dari dividend (pembagian keuntungan perusahaan) dan capital gain (kenaikan harga saham dihitung pada saat saham di jual dikurangi saat saham di beli). Aset memperlihatkan harta yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, makin tinggi aset makin berkembang perusahaan tersebut.

Dividend model                                            Dividend growth model
            D                                                                                 D1
P0 = ----------                                                               P0 =  --------
            k                                                                                  k-g


P0     = intrinsic value/theoretical value/expected value (nilai intrinsik/nilai ekspektasi)
D      = Dividend
D1     = Dividend pada tahun ke 1= D0 (1 + g)
k       = required return (return yang diinginkan)
g       = dividend growth

Bila Market Value > Intrinsic Value, maka harga saham overvalued ® strategi: jual
Bila Market Value < Intrinsic Value, maka harga saham undervalued ® strategi: beli
Tidak diragukan bahwa analisis fundamental memegang peranan penting dalam penentuan harga saham. Walaupun ekspektasi harga berdasarkan pada faktor-faktor fundamental memberikan arah jangka panjang, penting juga untuk mengetahui histori harga sehingga dapat diketahui bahwa saham yang undervalued tersebut memang tetap undervalued.
Keunggulan analisis fundamental
1.    Analisis fundamental amat berguna dalam menentukan arah jangka panjang
2.    Lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya
3.    Bisa menjelaskan lebih tepat mengenai alasan mengapa harga naik atau turun
4.    Mampu memberikan dasar yang logis dalam pengambilan keputusan investasi
Kelemahan analisis fundamental
1.    Memakan banyak waktu
2.    Sulit berfungsi pada pasar modal tidak efisien karena asumsi dasarnya adalah pasar efisien
3.    Asumsi pasar efisien sulit diterapkan karena informasi dapat sempurna berdasarkan atas kualitas dan waktu, tetapi tidak mungkin sama dalam persepsi. Fully effisien tidak mungkin terjadi, hanya economically effisien (weak-form; semi-strong form; dan strong-form).
4.    Tidak dapat menggambarkan psikologi pasar dan investor saat itu
5.    Tidak fleksibel untuk menentukan periode waktu yang diinginkan


IV.  ANALISIS TEKNIKAL

Kunci sukses dalam investasi adalah pengetahuan dan action.  Awalnya, analisis teknikal diaplikasikan di equity market tetapi kemudian secara bertahap kepopulerannya dikembangkan di pasar komoditi, instrumen-instrumen hutang, mata.uang, dan pasar-pasar internasional lainnya (Pring, 2002).  Tidak alasan mengapa seseorang tidak dapat memperoleh keuntungan dipasar keuangan. Analisis teknikal amat berguna untuk memprediksi dan mengidentifikasikan emerging trends
Not earnings, nor dividends, nor risk, nor gloom of high interest rates stay the chartist from their assigned task: studying the price movements of stocks.”  Kata-kata tersebut sering dilontarkan orang di Wall Street (Malkiel, 1990: 130).  Para praktisi melihat bahwa dalam membeli saham yang terpenting adalah melihat kecenderungan dari “crowds” yang tercermin pada grafik-grafik (charts) seperti:  trend following indicators, oscillator indicators, dan miscellaneous indicators.
Pendekatan teknikal untuk keputusan investasi merefleksikan ide bahwa harga bergerak dalam trends yang dicerminkan dengan perubahan perilaku investor dalam menaksirkan ekonomi, moneter, politik, dan psikologi. Seni pendekatan teknikal adalah identify trend changes at an early stage and to maintain an investment posture until the weight of the evidence indicates that the trend has reversed (Pring, 2002: 2). Dasar pemikirannya adalah manusia sebagai makluk pada dasarnya kurang lebih konstan dan trend bereaksi pada situasi yang kurang lebih sama dengan cara yang konstan. Dengan mempelajari titik balik pasar sebelumnya akan dimungkinkan untuk melihat beberapa karakteristik yang dapat membantu mengidentifikasikan titik tertinggi dan titik terendah pasar.
Analisis teknikal berdasarkan atas asumsi bahwa orang akan selalu melakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Hubungan manusia amat komplek dan tidak pernah sama satu sama lainnya. Pasar yang merefleksikan keinginan orang tidak pernah identik dalam performance-nya tetapi kesamaan karakteristiknya dapat digunakan untuk menentukan major juncture points. Analisis teknikal membuat alat sebagai indikator dalam menangkap dan mengisolasi titik-titik yang mencerminkan cyclical market juncture.
Analisis teknikal dapat dibagai ke dalam 3 area pokok, yaitu: (1) sentiment, (2) flow-of-funds, dan (3) market structure indicators. Sentimen merupakan expectational indicators yang memonitor  emosi para investor. Jadi indeks sentimen bergerak dari satu titik ekstrem pada bear market bottom ke bull market top. Asumsi indikator ini adalah kelompok investor yang berbeda konsisten dengan aksinya pada major market turning points. Flow-of-funds indicators menganalisis posisi finansial dari berbagai macam kelompok investasi untuk mengetahui potensinya dalam membeli dan menjual saham. Harga dimana transaksi tersebut terjadi harus sama antara pembeli dan penjual. Sehingga jumlah uang yang mengalir ke luar harus sama dengan uang yang mengalir masuk. Pendekatan flow-of-funds amat peduli dengan before-the-fact balance antarpenawaran dan permintaan atau disebut hubungan ex ante.
Market structure indicators atau character of the market indicators memonitor trend dari berbagai indeks harga, market breadth, siklis, volume dan hal-hal lain dalam rangka mengevaluasi “kesehatan” bull dan bear markets. Biasanya,  waktu, harga dan ukuran internal seperti market breadth, momentum, dan volume naik dan turun secara bersama-sama tetapi pada akhir gerakan pasar indikator-indikator ini akan menyimpang dari harganya. Analisis teknikal berdasarkan atas teori yang menyatakan bahwa harga merefleksikan psikologi masa (the crowd) dalam aksinya. Oleh karena itulah gerakan harga dimasa yang akan datang juga mendasarkan atas psikologi massa yang bergerak diantara rasa panik, ketakutan, dan rasa tidak percaya diri disatu sisi dengan rasa percaya diri, terlalu optimis, dan keserakahan disisi lainnya.
Pergerakan harga dapat diklasifikasikan dalam: (1) gerakan pokok atau primary/cyclical  yang merefleksikan sikap investor terhadap siklus bisnis dengan periode 1 sampai 3 tahun; (2) intermediate dengan periode 3 minggu sampai beberapa bulan; dan (3) short term movement dengan periode 3 atau 4 minggu cenderung bersifat random. 





A. Konsep Dalam Technical Analysis

  1. Market action discounts everything,never what they (stocks) are worth but what people think they are worth” (Drew, 1968: 18). Gerakan yang pokok dalam obligasi, saham, dan harga komoditas disebabkan oleh trend jangka panjang oleh emosi investasi yang dilakukan publik. Emosi ini mencerminkan tingkat antisipasi dan tingkat perkembangan aktiviras ekonomi dimasa datang dan sikap para investor terhadap aktivitas tersebut.

  1. Prices move in trends. Pasar keuangan bergerak dalam trend yang disebabkan oleh adanya perubahan sikap dan ekspektasi investor terhadap siklus bisnis. Analisis teknikal mencoba untuk mengidentifikasi-kan titik belok (turning point) dari price trend secara rata-rata yang diakibatkan oleh kekuatan dan kelemahan laten struktur pasar. Trend dari optimisme investor mempengaruhi pergerakan harga. Aspek emosi dapat  dilihat dari empat (4) dimensi, yaitu price, time, volume, dan breadth.  Perubahan harga merefleksikan tingkat perubahan sikap investor. Waktu mengukur panjangnya siklus psikologi investor. Makin lama seorang investor untuk bergerak dari elemen bullish ke bearish, makin besar pula perubahan harga tersebut menuju kesuatu arah. Volume merefleksikan intensitas perubahan sikap investor. Breadth, mengukur lamanya emosi investor. Analisis teknikal mengukur dimensi psikologi dalam berbagai cara. Kebanyakan indikator memonitor dua atau lebih aspek secara simultan. Tidak ada satu indikatorpun yang dapat mengekspektasikan sinyal dari semua perubahan trend, maka amat perlu untuk menggunakan sejumlah indikator secara bersama-sama untuk membangun konsensus mengenai apa yang akan terjadi.

  1. History repeats itself.  Analisis teknikal mempercayai bahwa data historis mempengaruhi harga saham sekarang dan yang akan datang. Harga saham mempunyai pola yang selalu berulang-ulang sepanjang masa. Pola tersebut mengikuti pola peak-and-trough (puncak dan lembah) yang amat sederhana tetapi efektif mengidentifikasikan pergerakan saham.


B. Jenis-Jenis

1.    DOW THEORY

Teori ini didasarkan atas penemuan Charles H. Dow yang mendasarkan pada arah sebuah trend dan tidak pada nilai prediksi durasi puncak atau ukuran dari trend. Dow menggunakan perilaku pasar saham sebagai barometer kondisi bisnis dan tidak pada prediksi harga saham itu sendiri. Asumsi teori Dow adalah mayoritas saham mengikuti trend pasar yang ada pada waktu itu. Untuk mengukur “pasar” Dow membuat dua buah indeks, yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA), yang merupakan saham-saham papan atas (blue-chip/first layer) dan Transportation Average (dulu bernama Dow Jones Rail Average, hanya untuk saham-saham dari perusahaan kereta api).
Pasar mempunyai tiga buah gerakan, yaitu primary movement, secondary reactions, dan minor movement. Yang terpenting adalah primary/major trend yang biasanya dikenal dengan sebutan bull (rising) atau bear (falling) market

*Major Trend/primary trend: 1th-2 th atau lebih, seperti air pasang (tide)

a.    accumulation stage (harga bergerak lambat), peserta mulai ikut ambil posisi beli
b.    bull market model (beli)/markup phase, harga ↑ karena ada akumulasi beli
c.    bear market model/distribution stage (jual), terjadi anti klimak (over priced)

Long-term investor pada prinsipnya lebih memperhatikan arah primary trend karena dalam menentukan prespekstif  pada bull atau bear market. Jika kenaikan membutuhkan waktu lebih lama daripada waktu penurunan, maka terjadinya bull market biasanya lebih lama daripada bear market. Kerugian trading terjadi karena trader dalam posisi yang berlawanan dengan posisi trend utama.

*Intermediate trend: 3 minggu-6 bulan, seperti gelombang (wave)

*Minor Trend: 1 minggu-3 minggu, seperti riak air (ripples) Untuk transaksi jangka pendek dalam pasar futures lebih memperhatikan perubahan harga yang lebih kecil tetapi juga tetap membutuhkan arah primary dan intermediate trend.  Kejutan muncul biasanya pada upside pada bull market dan dowside pada bear market. Kenaikan trend jangka pendek diantara bull market lebih besar dalam ukuran daripada downtrends jangka pendek, dan sebaliknya.         
Untuk memperjelas lihat Gambar 1 yang mencerminkan ketiga macam trend tersebut di atas.













 

















Gambar 1. Jenis trend dalam teori Dow

Catatan:
            ~ Trend ditunjukkan oleh trading volume, pergerakan naik bisa dipertimbangkan sebagai trend naik  (up trend) bila diikuti dengan kenaikan volume secara bersamaan menandakan trend tersebut signifikan.
            ~Trend akan terus berlanjut sampai ada sinyal tertentu yang menunjukkan adanya titik balik (reversal).

            Selain trend naik ada pula trend turun (down trend), jika trend turun tetapi volume naik menunjukkan penurunan tersebut tidak signifikan, dan sebaliknya.  Data tetap disebut sideways. “Harga bergerak dalam Trend” – The trend is your friend, go with your trend. Makin panjang jangka waktu trend, maka makin mudah untuk diidentifikasikan.

1.    Semakin banyak harga saham yang menyentuh garis trend, semakin valid/kuat garis trend tersebut.
2.    Semakin besar sudut kemiringan garis trend semakin kuat garis trend tersebut.
3.    Kuat/arah trend ditentukan oleh volume yang terjadi pada saat harga saham bergerak.
4.    Penembusan (breakout) dari garis trend yang diikuti pula dengan volume yang tinggi merupakan sinyal perubahan trend dapat terjadi.
5.    Trend yang telah berlangsung selama 2 tahun lebih mempunyai arti daripada yang baru terjadi selama 2 bulan.

Dengan adanya intraday data melalui automatic trading mechanism, maka intraday trend juga dapat diperoleh berdasarkan atas real-time trading. Pergerakan yang amat pendek tetap dapat dianalisis dengan konsep trend yang sama, hanya harus diperhatikan ada dua macam berbedaan:
1.    pembalikan dalam grafik menit atau jam hanya mempunyai implikasi sangat pendek dan tidak signifikan untuk pembalikan harga jangka panjang,
2.    harga pasar yang sangat pendek lebih-lebih karena pengaruh psikologi dan reaksi instant semata yang diakibatkan oleh berita /rumor sesaat. Keputusan yang diambil hanya atas dasar tendensi emosi sesaat akan tidak menguntungkan. Aksi harga intraday lebih bersifat manipulasi (saham gorengan/hot stock).

2.    ELIOT WAVE PRINCIPLE

Menurut Eliot ada 5 wave, 3 naik dan 2 turun. Jika harga bergerak naik, kemudian turun, naik lagi tetapi lebih tinggi dan kemudian turun lagi, maka kejadian ini memberikan indikasi harga bersifat HEAD AND SHOULDER  (H&S) sehingga harapannya pola akan berulang lagi diwaktu akan datang. H&S merupakan grafik pola yang paling reliabel. Formasi H&S muncul pada market tops maupun pada market bottoms Pasar REBOUND-bergerak naik, kemudian pasar akan BEARISH (turun). Pola ini terdiri atas “kepala” yang dibagi ke dalam dua buah “bahu” berujud lembah (though) yang tidak persis sama. Bahu yang pertama muncul pada bull market dan bahu kedua mempengaruhi awal bear market (lihat Gambar 2). Pola H&S dapat terbentuk dalam 3 sampai 4 minggu atau dapat juga beberapa tahun dalam pembentukannya.
Pola H&S merupakan formasi yang amat cocok untuk melihat indikasi trend yang membalik (trend reversal). Umumnya, volume akan menjadi relatif tinggi pada dasar bahu kiri dan selama pembentukannya pada kepala. Faktor utama yang penting adalah melihat aktivitas bahu kanan yang menurun ke lembah dan melebar secara berarti pada  titik patahnya. Mengukur implikasi dan karakteristik  volume dalam H&S adalah sama seperti jika melihat pada titik balik trend, bedanya pola H&S terjadi “selama” trend berlangsung sedangkan pada pembalikan trend biasanya terjadi pada akhir periode.







N
 

 










Gambar 2. Head and Shoulder

Elliott Wave Principle disusun pada tahun 1930 an oleh R.N. Elliott dan kemudian sebagaian besar popularitasnya karena usaha Hamilton Bolton, former president of the National Federation. Menurut Eliot, semua perubahan pasar saham dapat dibagi ke dalam gelombang-gelombang atau siklus-siklus dari berbagai magnitudes (besaran) dan masing-masing gelombang dapat dibagi lagi ke dalam gelombang-gelombang dari magnitude yang lebih kecil. Elliott memberikan terminology untuk menggambarkan magnitude ini dan menyebutnya dalam urutan menurun atas dasar pentingnya, yaitu Grand Super Cycle, Super Cycle, Cycle, Primary, Intermediate, dan Minor.
Prinsip (tenet) yang paling penting dari Ellliot Wave Principle adalah gerakan-gerakan utama terjadi dalam lima gelombang. Dalam suatu major bull market, gelombang pertama adalah ke atas, kedua menurun, ketiga ke atas, keempat menurun, dan kelima dan tahap final ke atas. Menurut teori ini, masing-masing gelombang ke atas tersebut lebih lanjut dapat dibagi lagi menjadi lima pola gelombang (wave patterns), dan seterusnya ad infinitum (terus menerus, tidak berhenti). Gelombang kedua dan keempat dibagi secara berbeda. Gelombang-gelombang tersebut dibagi menjadi hanya tiga gelombang: gelombang pertama menurun, kedua naik, gelombang ketiga dan final menurun.
Elliot’s Principle merupakan suatu alat yang sangat menarik untuk memberikan prespektif sejarah secara garis besar atas pergerakan-pergerakan pasar. Kesulitan muncul karena sering diperlukan revisi interpretasi jika analist berusaha mengetahui intermediate wave dan minor wave karena yang dapat diketahui langsung adalah major wave. Prinsip ini penting jika ingin mendapatkan prespektif mengenai pasar kaitannya pasar dengan trend jangka sangat panjang.

3.    BREADTH INDEX (BI)

Breadth Index di dasarkankan pada saham-saham yang naik dan turun setiap hari, pada volume saham yang diperdagangkan pada hari-hari naik dan turun. Perhitungan BI dapat diilustrasikan sebagai contoh. Misalnya dalam satu minggu tertentu terdapat 800 saham naik, 400 turun, dan 200 tidak berubah, maka
BI =  [(800-400)/200] = 2 total minggu sebelumnya.
Pentingnya BI terletak pada confirmation dan non confirmation dari puncak-puncak (peak) penting dalam rata-ratnya. Pada umumnya, jika peaks di confirmed oleh BI berarti market leadership cukup lebar sehingga tidak ada penurunan dalam waktu dekat. Jika BI menolak untuk mengkonfirmasikan new highs in the averages, berarti kenaikan tersebut dibatasi oleh relatif sedikit saham dan suatu penurunan mungkin terjadi. Jika BI gagal melebihi ketinggian pada peak yang baru, maka penampilan yang buruk ini memberikan suatu peringatan dini atas adanya break yang sangat tajam
Up side volume adalah volume pada hari-hari lebih banyak saham yang naik. Dowside volume adalah volume pada hari-hari lebih banyak saham yang turun.




C. Jenis Technical Analysis

  1. Classical Technical Analysis
    1. Line studies
    2. Chart pattern
  2. Modern Technical Analysis
    1. Trend following indicators
    2. Oscillator indicators
    3. Miscellaneous indicators

V. PENGOPERASIAN METASTOCK PROGRAM

Program ini digunakan untuk menganalisis saham dengan technical analysis dapat secara on-line ataupun off-line. Versi yang terbaru (2004) adalah versi 9.0. Versi terbaru ini membutuhkan Microsoft Windows 2000 (Service Pack 3 atau lebih)/XP, Pentium 3 processor atau yang lebih cepat, CD-ROM drive, Super VGA (1024 x 768) atau dengan resolusi monitor lebih tinggi serta 256 warna, Microsoft Internet Exporer 6, Microsoft .NET framework, Microsoft Media Player 7.1 atau lebih tinggi, Modem atau koneksi internet, link dengan pusat data missal Reuter DataLink. MAPI Mail compliant program, RAM sebesar  256 megabytes,  masih terdapat space minimal 600 megabytes dalam hard disk (ditambah 200MB untuk System Testing Reports), dan ada online data vendor dengan DataOnDemandTM 


A. Membuka Grafik

Untuk membuka grafik ambil icon OPEN sebelah kiri atas kemudian pilih pada data sampel.  Jika data yang digunakan tidak dari sampel maka harus dilakukan transfer data lebih dahulu dari data Excel (Microsoft Excel 4.0 Worksheet) melalui fasilitas THE DOWNLODER icon sebelah kanan atas, muncullah CONVERT SECURITIES.  Data yang tersimpan di Excel harus mempunyai heading kolom terdiri dari date, high, low, close, dan volume (minimal date dan close). Format date adalah mm/dd/yy dengan ascending (dimulai dari data yang terlama ke baru) Program Excel harus ditutup dahulu sebelum dikonversi oleh metastock. Gunakan browse untuk mencari file yang dimaksud. Source: tipe file adalah EXCEL Folder dipilih sesuai dengan tempat menyimpan file Excel. Destination: file type dipilih METASTOCK. Folder adalah lokasi tempat menyimpan file hasil konversi. Ticker harus diisi sesuai dengan file name yang digunakan. Jika konversi berhasil akan muncul conversion report Ö. Data siap dipakai oleh metastock melalui open dan find ticker.

B. Menggambar Garis

 
Agar memudahkan analisis dan kecenderungan grafik, maka dengan bantuan garis (misal, Trend) akan amat membantu visualisasinya. Cara yang dilakukan dengan menklik icon TRENDLINE, menahannya dan menariknya sampai tempat yang sesuai. Grafik ada beberapa macam, dengan menggunakan bar chart dan klik dapat diperoleh properties berbagai macam jenis grafik yang dapat digunakan, kemudian apply.

high
 
1. Bar Chart


 








2. Candlestick

long white: bullish                                                                long black line












close
 


 









Untuk mengetahui lebih lanjut candle chart dapat dilihat pada lampiran 1 (Appendix A).

3.    Point and Figure (P&F)

P&F tidak mempunyai basis waktu. Input P&F hanya terjadi jika ada perubahan harga, symbol:







 




Penurunan harga                      Kenaikan harga

C. Menggunakan Indikator

Indikator merupakan alat utama dari analisis teknikal. Untuk memberikan pedoman yang lebih akurat, digunakan beberapa indikator sekaligus, misal moving average indicator, relative strength, dan momentum. Pilihlah INDICATOR QUICKLIST sebagai indikator analisis yang diinginkan. Klik dan tarik ke tempat grafik yang sudah terbuka. Akan terlihat option parameter. Dalam option parameter sudah ditentukan default-nya jika ingin menggantinya dapat dilakukan. Setelah selesai klik OK. Hasil grafik dan indikator akan memberikan kemudahan analisis bagi kita.


1. Moving Average (MA)
Moving average (MA) adalah salah satu indikator yang populer dalam analisis teknikal modern. Moving average digunakan untuk mengidentifkasi sinyal bahwa trend telah dimulai, sedang berlangsung atau akan segera berakhir. Pada umumnya penggunaan moving average untuk mengidentifikasi arah trend yang sedang dan akan terjadi serta digunakan untuk mengidentifikasi sinyal jual atau beli. Apabila harga aktual (actual price) bergerak naik di atas garis moving average menunjukkan bahwa pasar bullish akan terjadi (Gambar 3). Sedangkan kondisi pasar bearish terjadi apabila garis moving average bergerak turun di atas harga asli (Gambar 4).  MA ada tiga jenis, yaitu simple moving average, weighted moving average, dan exponential moving average.


Gambar 3: Pasar Bullish
(Sumber: Data diolah dengan MetaStock)

Gambar 4: Pasar Bearish
(Sumber: Data diolah dengan MetaStock)

Moving average yang panjang atau lebih lama periodenya dapat digunakan sebagai indikator trend, dan moving average yang lebih pendek periodenya digunakan untuk menentukan “timing”. Timing berarti menentukan kapan saham sebaiknya dibeli dan kapan sebaiknya saham dijual. Salah satu tujuan penggunaan dua garis moving average adalah untuk menghindari adanya whipsawing atau kesalahan dalam mengidentifikasi trend dan timing.
Penggunaan periode dalam moving average juga bermacam-macam tergantung dari jenis pasarnya. Namun dalam perdagangan saham biasanya terdapat periode-periode yang populer dikalangan analis, seperti periode 9 atau10 untuk jangka pendek, dan 10 atau 20 untuk jangka panjang. Periode lain yang sering digunakan adalah 18 atau 20, 40 atau 50, dan 100 atau 200.
Sinyal beli dalam penggunaan dua moving average terjadi apabila harga asli berada di atas moving average dengan periode pendek bergerak memotong dari bawah ke atas moving average periode panjang. Sinyal jual terjadi jika moving average  periode pendek bergerak memotong dari atas ke bawah moving average panjang serta harga asli terjadi di bawah persilangan (cross-over) tersebut (Gambar 5).


       




      



Gambar 5: Sinyal Beli dan Jual Melalui Indikator Moving Average

Sinyal jual atau beli akan menjadi lebih signifikan apabila persilangan antara kedua moving average yang digunakan memiliki arah yang sama. Jika kedua garis moving average bergerak ke atas disebut Golden Cross dan sebaliknya, jika bergerak ke bawah disebut Death Cross (Pring, 2002).

2. Oscillator (momentum indicators)
Oscillator (momentum indicators) mempunyai banyak manfaat. Manfaat utama oskilator untuk memberi gambaran yang jelas tentang aktivitas pasar. Oskilator relatif mudah dibangun dan diinterpretasikan. Salah satu keunggulan oskilator dapat digunakan dalam kondisi harga sedang bergerak naik, turun, maupun menyamping. Banyak alat teknikal lainnya tidak mampu memberikan indikasi bila harga bergerak ke samping.

a. Momentum (Mo)
Momentum mengukur percepatan atau perlambatan harga. Oskilator momentum dibentuk untuk mengukur kecepatan atau tingkat perubahan. Oskilator momentum diciptakan dengan mengurangi harga penutupan dengan harga periode yang lalu yang dipilih Setelah harga setiap periode dikurangkan maka hasilnya digambarkan di sekitar garis nol.
Sebagai contoh, oskilator momentum lima hari adalah perbedaan antara harga penutupan sekarang dengan harga penutupan lima hari yang lalu. Hasil pengurangan setiap harinya baik yang bernilai positif maupun negatif digambarkan disekitar garis nol. Oskilator momentum bereaksi berdasarkan keuntungan dari selisih harga sekarang dengan keuntungan dari selisih harga N periode yang lalu. N adalah jumlah periode yang dipilih. Keunggulan oskilator momentum dapat memberi arah aktivitas harga pada titik balik pasar. Tabel  1 di bawah adalah reaksi oskilator momentum untuk memberi arah pada aktifitas harga melalui titik balik pasar.

Tabel 1
Reaksi Oskilator Momentum
Oskilator Momentum
Deskripsi
Naik
Harga di periode sekarang naik lebih banyak (turun lebih sedikit) dari N periode yang lalu.
Datar
Harga naik atau turun di periode sekarang jumlahnya sama dengan N periode yang lalu.
Turun
Harga di periode sekarang naik lebih kecil (turun lebih banyak) dari N periode yang lalu.
   Sumber: MetaStock user’s manual versi 9.0 ( 2004)



b. Relative Strength Index (RSI)

Relative Strength Index merupakan indikator momentum harga yang dikembangkan oleh J. Welles Wilder, Jr. RSI harus digunakan sejalan dengan grafik pergerakan harga tetapi tidak bersama-sama dengan indikator sejenis lainnya. RSI umumnya disebut dengan indikator relative strength merupakan rangkaian momentum. RSI tidak boleh dipengaruhui oleh principle of relative strength saat suatu seri dibagi dengan yang lain. RSI ini merupakan rasio weighted price velocity untuk suatu sekuritas relatif pada dirinya sendiri dan dengan demikian juga relatif pada kinerja masa lalu (Pring 2002).
RSI secara khusus didesain untk mengatasi tiga kelemahan oscillator. Pertama, oscillator bergerak secara tidak beraturan karena tidak menggunakan data lama dalam kalkulasnya. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki oscillator 10 hari dan 10 hari lalu harga sekuritas naik-turun secara dramatis, oscillator saat ini akan salah mengartikan dengan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kedua, terkait dengan skala oscillator, yaitu seberapa tinggi-rendah oscillator akan menjadi tanda untuk membeli atau menjual. Ketiga, kebutuhan untuk menjaga jumlah data yang sangat besar untuk perhitungan oscillator.       
RSI digunakan untuk menghitung rasio rata-rata kenaikan harga penutupan dengan rata-rata penurunan harga penutupan dalam periode tertentu.
RSI = 100 - 100/(100 + RS)
RS = Average upclose value/ Average downclose value
RSI berkisar antara 0 – 100, harga di atas level index 70 adalah bullish, atau saham overbough oleh para investor. Harga di bawah 30 disebut kondisi bearish dan dinilai oversold.
Jika RSI pada level 70 atau lebih disebut technical rebound, karena minat beli sudah reda. Kebalikannya di bawah 30 artinya  harga oversold, karena minal jual sudah reda. Overbought adalah sinyal jual dan oversold adalah sinyal beli (lihat Gambar 6).
Catatan: biasanya digunakan 9 hari dan 21 hari basis waktu. Para analist cenderung memilih 80/20 daripada 70/30 untuk batas kondisi overbough/oversold
 













Gambar 6. Peak (puncak) and Trough (lembah)


c. Commodity Channel Index (CCI)
Commodity Channel Index (CCI) dihitung dengan menentukan perbedaan antara harga rata-rata komoditas dan tingkat harga rata-rata pada periode tertentu yang telah ditetapkan. Perbedaan tersebut kemudian dibandingkan dengan rata-rata perbedaan pada suatu periode waktu. Hasil yang diperoleh kemudian dikalikan dengan konstanta yang di desain untuk menyesuaikan CCI sehingga menjadi sesuai dengan tingkat perdagangan yang berkisar ±100.      

d. Stochastic Oscillator
Pendekatan ini diperkenalkan oleh George C. Lane. Stochastic oscillator  sangat populer bagi para investor, terutama yang berorientasi jangka pendek. Stochastic oscillator adalah teknik kecepatan harga yang didasarkan pada teori bahwa bila harga naik, maka harga penutupan mempunyai tendensi mendekati harga tertinggi hari ybs. Begitu juga harga bergerak turun, maka harga penutupannya kecenderungan mendekati harga terendah hari itu.

3. Market Strength Indicators
Indikator kekuatan pasar digunakan untuk mengukur kekuatan suatu pasar. Asumsi yang digunakan dalam mengukur kekuatan suatu pasar adalah apabila volume perdagangan bertambah secara signifikan, maka akan diikuti oleh banyaknya pembeli (buyers). Sebaliknya apabila volume perdagangan bergerak turun menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pasar semakin kecil yang ditandai dengan sedikitnya pembeli.

a. Money Flow Index
Indikator Money Flow Index (MFI) untuk mengukur kekuatan arus uang  dari suatu sekuritas. Hal ini sangat dekat hubungannya dengan Relative Strength Index (RSI), perbedaannya adalah bahwa money flow index dapat memperkirakan pergerakan volume, sedangkan RSI hanya berhubungan dengan pergerakan harga saja. Money Flow Index dihitung dengan menentukan harga rata-rata dalam sehari, kemudian membandingkannya dengan harga rata-rata hari sebelumnya. Apabila harga rata-rata hari ini lebih tinggi dari harga rata-rata hari sebelumnya, maka hal ini disebut dengan  positive money flow dan apabila harga rata-rata hari ini lebih rendah dari harga rata-rata hari sebelumnya, maka hal ini disebut sebagai negative money flow. Money Flow secara spesifik untuk hari tertentu dihitung dengan cara mengalikan harga rata-rata dengan volume.

b. Negative Volume Index
Negative Volume Index (NVI) berkaitan dengan menurunnya volume terhadap perubahan harga suatu sekuritas. Pada saat volume menurun dari hari sebelumnya, NVI disesuaikan (adjusted) dengan perubahan persentase harga suatu sekuritas.
Optimisasi sistem dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis indikator dengan cara melakukan test yang bevariasi sesuai dengan trading rules. Setiap perdagangan dengan satu jenis saham dapat menggunakan optimisasi variable’s range ke dalam kategori: minimum, maximum dan step diikuti dengan melakukan optimisasi terhadap periode waktu yang digunakan sebagai basis perhitungan. Sinyal beli-jual diperoleh dengan mengamati garis perpotongan masing-masing indikator maupun untuk kombinasi antara indikator (Tabel 2).
Formula sinyal beli-jual menggunakan software MetaStock untuk mendapatkan return atas data yang diproses. Brokerage fee dan tax setiap transaksi dilakukan sebesar 0,5 persen untuk order beli (0,2%) dan order jual (0,3 % termasuk pajak 0,1%).
Tabel 2
Sinyal Beli dan Jual

  Trend Indicators
Indikator
Sinyal Beli
Sinyal Jual
Simple Moving Average (SMA)
Cross(C,Mov(C,opt1,S))
SMA memotong ke atas grafik harga saham
Cross(Mov(C,opt1,S),C)
SMA memotong ke bawah grafik harga saham
Weighted Moving Average (WMA)
Cross(C,Mov(C,opt1,W))
WMA memotong ke atas grafik harga saham
Cross(Mov(C,opt1,W),C)
WMA memotong ke bawah grafik harga saham
Exponential Moving Average (EMA)
Cross(C,Mov(C,opt1,E))
EMA memotong ke atas grafik harga saham
Cross(Mov(C,opt1,E),C)
EMA memotong ke bawah grafik harga saham

Momentum Indicators
Indikator
Sinyal Beli
Sinyal Jual
Momentum
 (Mo)
Cross[Mo(opt1),100]
Mo memotong ke atas garis horizontal 100 (seratus)
Cross[100,Mo(opt1)]
Mo memotong ke bawah garis horizontal 100 (seratus)
Relative Strength Index
(RSI)
Cross[RSI(opt1),30] OR Cross[RSI(opt1),70]
RSI memotong ke atas garis horizontal 30 atau garis 70
Cross[70,RSI(opt1)] OR Cross [30,RSI(opt1)]
RSI memotong ke bawah garis horizontal 30 atau garis 70
Commodity Channel Index (CCI)
Cross[CCI(opt1),-100]
CCI memotong ke atas garis horizontal -100
(minus seratus)
Cross[100,CCI(opt1)]
CCI memotong ke bawah garis horizontal +100
(plus seratus)
Stochastic Oscillator
(Stoch)
Cross[Stoch(opt1,opt2),20]
Stochastic Oscillator memotong ke atas garis horizontal 20
Cross[80,Stoch(opt1,opt2)]
Stochastic Oscillator memotong ke bawah garis horizontal 80.

Market Strength Indicators
Indikator
Sinyal Beli
Sinyal Jual
Money Flow Index
(MFI)
Cross[MFI(opt1),20] OR Cross[MSI(opt1),80]
MFI memotong ke atas garis horizontal 20 atau 80
Cross[MFI(opt1),20] OR Cross[MFI(opt1),80]
MFI memotong ke bawah garis horizontal 20 atau 80

Kombinasi Indikator antara Oscillator (Momentum Indicators) dengan Trend  Indicators
Indikator
Sinyal Beli
Sinyal Jual
Momentum & Simple Moving Average (Mo&SMA)
Cross[Mo(opt1),{Mov(Mo(opt1),
opt2,S)}]
Momentum memotong ke atas garis SMA dari Momentum
Cross[{Mov(Mo(opt1),opt2,S)},
{Mo(opt1)}]
Momentum memotong ke bawah garis SMA dari Momentum
Momentum & Weighted Moving Average (Mo&WMA)
Cross[Mo(opt1),{Mov(Mo(opt1),
opt2,W)}]
Momentum memotong ke atas garis SMA dari Momentum
Cross[{Mov(Mo(opt1),opt2,W)},
{Mo(opt1)}]
Momentum memotong ke bawah garis WMA dari Momentum
Momentum & Exponential Moving Average (Mo&EMA)
Cross[Mo(opt1),{Mov(Mo(opt1),
opt2,E)}]
Momentum memotong ke atas garis SMA dari Momentum
Cross[{Mov(Mo(opt1),opt2,E)},
{Mo(opt1)}]
Momentum memotong ke bawah garis EMA dari Momentum
Relative Strength Index & Simple Moving Average (RSI&SMA)
Cross[RSI(opt1),Mov{RSI(opt1),
opt2,S)}]
RSI memotong ke atas garis SMA dari RSI
Cross[{Mov(RSI(opt1),opt2,S)},
{RSI(opt1)}]
RSI memotong ke bawah garis SMA dari RSI
Relative Strength Index & Weighted Moving Average (RSI&WMA)
Cross[RSI(opt1),Mov{RSI(opt1),
opt2,W)}]
RSI memotong ke atas garis WMA dari RSI
Cross[{Mov(RSI(opt1),opt2,W)},
{RSI(opt1)}]
RSI memotong ke bawah garis WMA dari RSI
Relative Strength Index & Exponential Moving Average (RSI&EMA)
Cross[RSI(opt1),Mov{RSI(opt1),
opt2,E)}]
RSI memotong ke atas garis EMA dari RSI
Cross[{Mov(RSI(opt1),opt2,E)},
{RSI(opt1)}]
RSI memotong ke bawah garis EMA dari RSI

Kombinasi Indikator antara Market Strength Indicators dengan Trend Indicators
Indikator
Sinyal Beli
Sinyal Jual
Money Flow Index &
 Simple Moving Average (MFI&SMA)
Cross[MFI(opt1),{Mov(MFI(opt1),
opt2,S)}]
MFI memotong ke atas garis SMA dari MFI
Cross[{Mov(MFI(opt1),opt2,S)},
{MFI(opt1)}]
MFI memotong ke bawah garis SMA dari MFI
Money Flow Index & Weighted Moving Average (MFI&WMA)
Cross[MFI(opt1),{Mov(MFI(opt1),
opt2,W)}]
MFI memotong ke atas garis WMA dari MFI
Cross[{Mov(MFI(opt1),opt2,W)},
{MFI(opt1)}]
MFI memotong ke bawah garis WMA dari MFI
Money Flow Index & Exponential Moving Average (MFI&EMA)
Cross[MFI(opt1),{Mov(MFI(opt1),
opt2,E)}]
MFI memotong ke atas garis EMA dari MFI
Cross[{Mov(MFI(opt1),opt2,E)},
{MFI(opt1)}]
MFI memotong ke bawah garis EMA dari MFI
Negative Volume Index & Simple Moving Average (NVI&SMA)
Cross(NVI(),Mov(NVI(),opt1,S))
NVI memotong ke atas garis SMA dari NVI
Cross(Mov(NVI(),opt1,S),NVI())
NVI memotong ke bawah garis SMA dari NVI
Negative Volume Index & Weighted Moving Average (NVI&WMA)
Cross(NVI(),Mov(NVI(),opt1,W))
NVI memotong ke atas garis WMA dari NVI
Cross(Mov(NVI(),opt1,W),NVI())
NVI memotong ke bawah garis WMA dari NVI
Negative Volume Index & Exponential Moving Average (NVI&EMA)
Cross(NVI(),Mov(NVI(),opt1,E))
NVI memotong ke atas garis EMA dari NVI
Cross(Mov(NVI(),opt1,E),NVI())
NVI memotong ke bawah garis EMA dari NVI
Sumber: Ringkasan.dari Pring (2002) dan MataStock User’s manual versi 9.0 (2004)


D. SUPPORT versus RESISTANCE 

SUPPORT  (batas bawah) garis harga minat beli cukup kuat untuk menahan tekanan jual, harga murah untuk dibeli →posisi beli (long) →P↑
RESISTANCE (batas atas) garis harga minat jual lebih besar daripada minat beli  untuk merealisasikan keuntungan (profit taking) → posisi jual (short) → P↓
Harga turun karena aksi jual yang signifikan (over supply saham), merupakan downward pressure hingga menyentuh titik support level.
S & R menggambarkan bahwa naik dan turunnya harga saham pasti memiliki batas (batas atas dan batas bawah). Contohnya harga saham mengalami penurunan karena adanya aksi jual yang cukup signifikan, maka akan terjadi over supply oleh saham tersebut. Akibatnya downward pressure hingga menyentuh titik yang disebut support level.
Pada saat harga menyentuh titik support level, para pelaku pasar melihat bahwa harga undervalued, murah untuk di beli, aksi beli terjadi. Akibatnya harga naik dan menyentuh titik resistance. Pada saat itu harga terlalu overvalued pelaku pasar akan melakukan aksi jual, harga turun, demikian selanjutnya (lihat Gambar 7).




 










                                        
Gambar 7. Support dan Resistance



E. Pattern

Head and shoulder, top and bottom, pennants (dibentuk dari dua trend line yang menyatu), flag (trend volume yang menurun yang diganggu oleh penurunan atau kenaikan yang tajam), dan wedges (membentuk segitiga pada garis yang menyatu dibentuk dari sejumlah puncak dan lembah), akan lebih jelas digambarkan dengan RSI daripada grafik aslinya (lihat Gambar 8).





























 









   Flag                                    Pennant                                  Wedges

Gambar 8. Pattern


F. Divergence (Failure swing)

Penyimpangan antara harga asli dengan RSI merupakan indikasi kuat akan adanya reversal (pembalikan). Jika harga pada trend naik membuat titik tertinggi baru tetapi RSI malah bergerak turun, maka ini biasanya mengidentifikasikan akan adanya pembalikan. Biasanya digunakan 9 hari dan 21 hari basis waktu, dengan price field: close dan menggunakan (clik) horizon line.



DAFTAR PUSTAKA

Akermann, C.A., and Keller, W.E., 1977. Relative Strength Does Persist. The Journal of Portfolio Management, Fall, 38-45.
Biang Liang, 1996. The “Dartboard” Column: The Pros, the Darts, and the Market. Working Paper. Case Western Research University, Cleveland-Ohio. October.
Bohan, J., 1981. Relative Strength: Further Positive Evidence. The Journal of Portfolio Management, Fall, 36-39
Bruner, R.F., 2003. Case Studies in Finance. Fourth Edition. McGraw-Hill
Brush, J.S., 1986. Eight Relative Strength Models Compared. The Journal of Portfolio Management, Fall, 21-28.
Chordia, T., and Shivakumar, A., and Anshuman, V.R., 2000. Trading Activity and Expected Stock Returns. Working Paper, Emory University.
Concrad, J.,  and Kaul, G., 1998. Long-term Overreaction or biases in Computed Returns.The Journal of Finance 48, 39-63.
Cottle, S., Murray, R.F., and Block, F.E., 1988. Security Analysis. 5th  eds,  McGraw-Hill.
Dalton, J.M., 1993. How the Stock Market Works. 2nd eds, The New York Institute of Finance.
Diliddo, B., 1998. Stocks Strategies & Common Sense. 4th eds. HSC Publisher.
Drew, G., 1968. New Methods for Profit in the Stock Market, Metcalfe Press, Boston.
Farid Harianto, and Siswanto Sudomo, 1998. Perangkat dan Teknik Analisis Investasi di Pasar Modal Indonesia. Penerbit PT Bursa Efek Jakarta.
Grundy, B.D., and Martin, J.S., 2001. Understanding the Nature of the Risks and the Source of the Rewards to Momentum Investing. The Review of Financial Studies 14, 29-78.
Hendricks, D.J., Patei, J., and Zeckhauser, R., 1993. Hot Hands in Mutual Funds: Short-run Persistence of Relative Performance, 1974-1988. Journal of Finance 48, March, 93-130.
Hong, H., Lim, T., and Stein, J.C., 2000. Bad News Travels Slowly: Size, Analyst Coverage, and the Profitability of Momentum Strategies. The Journal of Finance 55, 265-296.
Hubert, M., 1991. It’s Not Too Late. Forbes 148 (4), 143
Jegadeesh, N., and Titman, S., 1993. Return to Buying Wieners and Selling Losers: Implications for Stock Market Efficiency. Journal of Finance 46, March., 65-91. 
Krass. P., 1999. The Book of Investing Wisdom: Classic Writings by Great Stock-Pickers and Legends of Wall Street. Wiley & Son.
Laderman, J.M., 1991. Riding Stocks that Have the Big Mo. Business Week, May 6,118.
Lesmond D.A., Schill, M.J., and Zhou, C., 2001. The Illusory Nature of Momentum Profits. Working Paper. NBER 4243.
Levy, R.A., 1967. Relative Strength as a Criterion for Investment Selection. Journal of Finance. Winter, 595-611
Levy, R.A., and Kripotos, S.L., 1969. Earning Growth, P/E’s and Relative Price Strength. Financial Analysts Journal, November-December, 60-67.
Malkiel, B.G, 1990. A Random Walk Down Wall Street. New York, WW Norton & Company.
Meissner, G., 2001. The RSI Revisited. Quality Trading Techniques, August, 34-36.
Pring, M.J., 2002. Technical Analysis Explained. 4th eds, McGraw-Hill.
Shimo, M.D., 1999. Stock Market Rules: 70 of the Most Widely Held Investment Axioms Explained, Examined and Exposed. Wiley & Son.
Volkman, D.A., and Wohar, M.E., 1996. Abnormal Profits and Relative Strength in Mutual Fund Returns. Review of Financial Economies 5 (2), 101-116.