ANALISIS FUNDAMENTAL,
TEKNIKAL DAN PROGRAM METASTOCK
OLEH
PROF. DR. SUKMAWATI
SUKAMULJA
I. PENDAHULUAN
Apa yang harus
dilakukan oleh seseorang yang mempunyai uang? Menyimpan uangnya dibank dalam
ujud deposito dan dapat tidur nyenyak
ataukan diinvestasikan kebidang lainnya. Investasi dapat dilakukan di riil
asset seperti tanah, rumah, emas, membuka toko, warung, membeli lukisan dan
riil asset lainnya. Investasi juga dapat dilakukan di financial asset
seperti valas, obligasi, saham, SBI, dan financial asset lainnya (di capital
market maupun di money market).
Investasi di pasar modal
merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan oleh orang yang ingin melakukan
investasi di financial assets. Penilaian harga sekuritas yang diperdagangkan
di pasar modal perlu dianalisis baik secara fundamental maupun teknikal. Para akademisi lebih cenderung menggunakan analaisis
fundamental yang menggunakan ratio-ratio keuangan, prestasi earnings, dan dividen daripada
menggunakan analisis teknikal atau sering disebut sebagai tape watcher/chartist yang menitikberatkan pada grafik-grafik yang
lebih disukai oleh para praktisi. Dasar pemikirannya adalah pada asumsi yang
digunakan.
Akademisi lebih mempercayai
bahwa harga yang terjadi di pasar saham bersifat Identically Independent Distributed (IID) atau terdistribusi secara
identik dan independen, tidak ada hubungan kausalitas antara harga historis,
harga sekarang, maupun harga dimasa akan datang. Harga yang terjadi benar-benar
saling asing karena dasar pemikirannya pada teori random walk. Teori ini menyatakan bahwa harga yang terjadi bersifat
random dan tidak berpola serta tidak
dapat dipengaruhi dan tidak dapat diprediksikan. Dalam jangka panjang untuk
menilai harga saham diperlukan prediksi berdasarkan atas harga teoritis atau
nilai intrinsiknya. Future earning
merupakan pedoman yang penting yang tercermin pada ekspektasi dividen.
independen, tidak ada hubungan kausalitas antara harga historis, harga
sekarang, maupun harga dimasa akan datang.
Kebalikannya, para praktisi
lebih mempercayai pada analisis teknikal yang tidak terlalu risau dengan
pertimbangan future earning dan
dividen. Dasar pemikirannya adalah tidak seorangpun yang tahu secara pasti apa
yang akan mempengaruhi prospek earning
maupun pembayaran dividen (Malkiel, 1990: 31). Yang terpenting adalah bagaimana
memprediksikan rata-rata opini yang akan terjadi dan belajar dari hal-hal dimasa lalu agar tidak mengalami hal yang
sama dimasa depan. Artinya,
kecenderungan atau trend harga
merupakan faktor penting dari analisis teknikal. Selain trend rata-rata pergerakan (moving
average) juga dipergunakan untuk menaksirkan rata-rata opini yang tercermin
pada gerakan harga.
Untuk mendapatkan hasil
yang optimal kedua pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam menilai harga
saham dan membantu membuat keputusan investasi. Untuk analisis fundamental
dapat dipelajari pada text book investasi, teori portfolio dan manajemen
risiko. Analisis teknikal banyak dipelajari dalam training-training pasar modal. Paper ini, penekanan pada kiat-kiat
menilai saham dan bagaimana teknik untuk memperoleh gain di pasar modal dengan menggunakan analisis fundamental dan
analisis teknikal serta software yang
biasa digunakan dalam analisis teknikal, yaitu Metastock.
Paper ini
disusun dengan urutan bab I adalah Pendahuluan, dilanjutkan bab II.
mengungkapkan kiat-kiat dalam berinvestasi di pasar saham. Bab III mengenai analisis fundamental,
Bab IV analisis teknikal diteruskan dengan bab V pengoperasian program
metastock.
II. KIAT-KIAT
BERINVESTASI DI PASAR SAHAM
Sebelum
membicarakan kiat-kiat berinvestasi di pasar saham perlu diketahui lebih dahulu
mitos-mitos yang terjadi di pasar saham yang sering menjerumuskan calon
investor dan investor dalam pengambilan keputusan berinvestasi (Diliddo, 1998).
A. Mitos dalam Pasar Saham
Ada lima (5) buah mitos dalam pasar saham.
- Price to earning ratio (P/E) memberikan
informasi bahwa apakah suatu saham mahal atau murah.
Rasio P/E mudah diketahui
baik dari koran, majalah, ataupun publikasi laporan saham (misal, Bisnis
Indonesia, Warta Ekonomi, Wall Street
Journal) tetapi P/E tidak memberikan arti apapun untuk menilai saham. Tidak
bisa dengan mudahnya membandingkan suatu perusahaan A yang mempunyai P/E 7
dengan saham B yang mempunyai P/E 14 dan kemudian dikatakan bahwa perusahaan
dengan P/E 14 mencerminkan harga yang lebih murah atau justru lebih mahal.
Dibutuhkan informasi lainnya. Yang dibutuhkan investor adalah value to price ratio. Dengan value to price ratio investor dapat
menentukan dengan cepat apakah suatu saham dijual dengan harga yang murah atau
mahal. Untuk mengetahui value to price
ratio dibutuhkan rumus dan teori mengenai nilai intrinsik yang cukup
komplek dan membutuhkan lebih banyak waktu. Untuk keputusan segera value to price ratio tidak cocok untuk digunakan.
- Adanya
asumsi bahwa risiko yang tinggi diperlukan untuk membuat banyak uang dalam
pasar saham.
Persepsi mengenai
risiko tinggi dalam melakukan investasi tidak semata-mata tanpa alasan.
Menginvestasikan uang dalam saham adalah jalan yang terbaik dari rata-rata
orang untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kadang lebih aman daripada
menginvestasikan uang pada real estate,
lukisan atau benda-benda antik, ataupun pada real assets lainnya. Investor dapat memperoleh banyak uang dalam
membeli saham pada risiko yang rendah jika:
- membeli saham dengan
konsisten dengan predictable
earning growth;
- membeli
saham dengan earning growth rates
yang sama atau lebih besar dari jumlah tingkat inflasi sekarang dan
tingkat bunga yang berlaku;
- jangan investasikan
lebih dari 10% uangmu dalam satu buah saham saja;
- jangan memiliki lebih
dari 2 saham dalam industri yang sama;
- jangan
masukkan seluruh uangmu dalam pasar saham tetapi distribusikan ke
investasi lain sepanjang waktu;
- membatasi
risiko dengan menggunakan stop-sell
order dan stop-loss (prosentase dalam menanggung rugi untuk menghindari kerugian
lebih banyak).
Saham dengan predictable earnings growth yang
konsisten adalah saham teraman yang dapat dibeli. Sebuah portofolio dengan
rata-rata earnings growth rate paling
minim 14% per tahun mempunyai kemungkinan nilainya akan menjadi dua kali lipat
dalam lima
tahun. Dalam 20 tahun nilainya akan meningkat 1.500 %. Jika anda membeli 10
buah saham dan memberi batasan kerugian pada setiap saham maksimal 10% dengan
menggunakan stop-sell orders, maka risiko portofolio totalnya hanya 10%
karena risiko untuk setiap saham hanya 1%. Adakah investasi lain yang seaman
ini?
- Membeli
saham pada saat harga turun dan menjualnya pada saat harga naik
Mitos ini adalah kata-kata
bijak kumo yang menyatakan bagaimana memperoleh uang dalam pasar saham, yaitu
membeli rendah dan menjual tinggi. Hal ini tidak benar. Persoalan ini timbul
karena investor bingung dengan pendapat konvensional yang mengasumsikan bahwa
jika harga saham bergerak turun berarti harga rendah dan jika harga bergerak
naik berarti harga tinggi. Sebagai konsekuensinya, investor membeli saham pada
saat harga turun dan menjualnya pada harga tinggi. Hal ini merupakan suatu
keputusan yang buruk. Seharusnya, saham dibeli karena ada ekspektasi harga akan
naik, dan sebaliknya jika ekspektasinya harga akan turun. Jadi logika yang
benar adalah membeli saham pada saat harga mulai naik dan menjualnya pada saat
harga mulai turun. Yang terbaik untuk membeli saham adalah pada saat harga
dititik balik ke atas (concave) di
atas harga old high-nya. Pada saat
ini jika saham dinilai dengan benar (fairly
valued) maka tidak akan terjadi kerugian dan harga akan melaju naik.
- Untuk menghindari
inflasi dilakukan hedging
Bertahun-tahun para broker saham dan salesmen danareksa
selalu menyatakan bahwa saham sebaiknya di hedge
untuk menghindari risiko adanya inflasi. Pernyataan tersebut dapat dikatakan
benar tetapi juga dapat dikatakan salah, tergantung darimana kita melihatnya.
Kenaikan inflasi akan menyebabkan kenaikan suku bunga. Pada kondisi demikian
investor dapat mengatakan behwa “saya bisa memperoleh uang banyak dengan bunga
obligasi yang tinggi (sebagai catatatan:
obligasi dengan floating rate)
sehingga mengapa saya harus tetap menginvestasikan uang saya di saham?” Sebagai
akibatnya investor akan menjual sahamnya dan harga saham akan turun. Hal lain
akibat adanya inflasi yang pasti akan menyebabkan tingkat bunga meningkat (Fisher effect) dan menyebabkan cost of business juga meningkat,
lanjutannya corporate earning akan
turun dan harga saham akan turun pula.
Jika demikian halnya mengapa disebutkan bahwa saham harus di hedge untuk menghindari inflasi? Hal itu
disebabkan orang akan dapat memperoleh uang lebih cepat daripada inflasi itu sendiri. Yang harus dilakukan
justru menginvestasikan uangnya pada saham yang mempunyai earning growth rates yang lebih tinggi daripada jumlah inflasi dan
tingkat bunga jangka panjangnya. Bila hal ini dilakukan maka harga saham akan
naik lebih cepat daripada kenaikan inflasi dan selalu satu langkah di depan
kenaikan inflasinya.
- Orang muda dapat
menerima risiko yang lebih tinggi
Mitos ini salah
besar dan terbodoh dari semua mitos-mitos lainnya. Orang yang lebih tua memang lebih hati-hati dan konservatif dalam
melakukan keputusan karena earnings power
mereka yang lebih terbatas, tetapi bukan berarti yang muda akan menerima risiko lebih banyak. Orang yang lebih muda
justru lebih memperhatikan rupiah demi rupiah uangnya karena mereka membutuhkan
untuk memulai kehidupan keluarga dan kariernya. Semua orang tidak menginginkan untuk
menerima risiko yang lebih besar baik orang tua maupun orang muda (in finance we always say “we are
risk averter”).
Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan dalam berinvestasi di pasar saham
(Krass, 1999).
- Gunakan
pialang yang bonafit
Ada empat jenis pialang dalam pasar modal, yaitu (1) perantara, (2)
penasihat investasi, (3) manajemen investasi, dan (4) underwriter (penjamin
emisi). Dalam memilih satu dari 186 pialang di Indonesia perlu diingat bahwa pialang yang
berpengalaman dan dapat dipercaya, sesuai dengan kebutuhan, didukung oleh
permodalan yang cukup dengan sistem operasional yang baik serta fasilitas
kemudahan akan amat membantu investor melalukan investasinya
- Membeli
saham secara bijaksana
Dalam membeli saham harus bijaksana, realistis, dan tidak dipengaruhi
oleh emosi dan sifat serakah. Bersikap bijaksana dan hati-hati adalah konsep
yang harus selalu diingat dalam berinvestasi. Dalam pasar modal disebut prinsip
caveat emptor. Ada empat jenis saham yang dapat dibeli, yaitu:
(1) income stock, saham dengan pembayaran dividen yang tinggi dan
ajeg, disukai oleh investor dari dana pensiun, asuransi, dan institusi yang
membutuhkan kepastian pendapatan; (2) total return stock, perusahaan dengan kebijakan
membagikan dividen tinggi sekaligus juga sedang masuk dalam periode primadona,
merupakan perusahaan besar yang sedang naik daun; (3) growth stock, saham yang lebih menitik beratkan pada pertumbuhan dan investasi
perusahaannya dan tidak pada pertumbuhan dividen, biasanya dari perusahaan
berskala kecil-menengah yang sedang tumbuh; dan (4) speculative stock, saham yang volatilitasnya
besar selalu berfluktuasi dan bersifat tidak stabil, investor yang memilih
jenis saham ini harus hati-hati karena dapat memberikan gain besar
sekaligus juga dapat memberikan loss tinggi. Pengaturan waktu “masuk”
dan “keluar” perlu diperhatikan.
- Lebih menggunakan otak daripada luck
Berinvestasi bukanlah judi sehingga perlu persiapan pengetahuan lebih
dahulu daripada hanya sekedar mendasarkan pada “keberuntungan” semata. Overtrading
melebihi margin yang dimiliki amat tidak dianjurkan karena mendorong
investor bersifat addict (kecanduan), denda yang dikenakan jika overtrading/overlimit
adalah 36% pertahun. Untuk melakukan investasi jika tidak mempunyai kemampuan
yang cukup sebaiknya meminta bantuan manajer investasi yang berlisensi atau
membeli reksadana. Melakukan diversifikasi investasi amat dianjurkan
sesuai konsep “don’t put all your eggs in one basket.” Risiko harus
dibagi ke dalam beberapa jenis investasi agar dapat mengurangi kerugian yang
harus ditanggung. Ada tiga faktor yang diantisipasi oleh seorang investor
(Sheimo, 1999): (1) real factor,
faktor yang senyatanya mendorong pergerakan harga saham, yaitu tingkat suku bunga
dan laba emiten, (2) imagined factor,
merupakan opini, sikap, dan analis ekonomi, dan (3) fabricated
factor, sikap investor menanggapi kedua faktor di atas
yang tercermin dalam keputusan membeli/menjual karena persepsi, emosi, reaksi,
dan antisipasi para investor (sering menjurus pada reaksi yang berlebih/overreact).
- BerInvestasi
dalam jangka panjang
Bursa efek merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai
optimisme tinggi. Bila investor percaya akan harga saham selalu berulang
mengikuti pola tertentu (berkebalikan dengan sifat IID), maka berinvestasi
dalam jangka panjang akan menghindari adanya sentimen dan tekanan fluktuasi
jangka pendek. Time horizon panjang akan menyebabkan compounding
effect dapat bekerja secara optimum. Sentimen dan tekanan jangka pendek
yang mengaburkan dapat dinetralisir dengan investasi jangka panjang. Investasi
dalam 1 tahun merupakan pilihan yang cukup baik bagi para investor dan lebih
pendek untuk para spekulator.
5. Membiasakan diri untuk mengikuti perkembangan informasi di bursa saham
Mencari informasi dari internet, koran, TV, dan summary pasar
modal amat dianjurkan. Mengikuti investment club atau perkumpulan yang
membahas dan mempelajari kiat-kiat bisnis di pasar saham amat membantu
meningkatkan pengetahuan Di USA ada National Association of Investors
Corporation (NAIC) dan di Indonesia Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia
(MISI) merupakan asosiasi yang membantu para investor membentuk serta
mengoperasikan klub investasi. Kursus-kursus
security analyst, investment management, dan technical
analysis dapat membantu menambah pengetahuan investor. Konsep “your best financial planner is
you,” merupakan konsep bijak yang perlu diikuti.
6.
Memperoleh
undervalued gain di IPO (Initial Public Offering)
Berdasarkan
atas riset di USA,
Eropa, dan di emerging capital market, saham yang dijual pada IPO atau
pasar primer, harganya hampir selalu undervalued. Strategi undervalued
dilakukan agar saham baru ini mempunyai god signal, mempunyai prospek
baik. Instant gain yang diperoleh pada pasar perdana dapat hanya dalam
hitungan hari atau minggu. Banyaknya permintaan pada IPO dengan harapan akan
mendapatkan instant gain sering menyebabkan adanya oversubscription,
adanya penjatahan pembelian. Oversubscription memberikan kesan pada pembeli
yang tidak mendapatkan sejumlah besar saham yang diinginkan untuk menaikkan
harganya di gray market.
- Memilih
saham dalam prospek industri yang akan menjadi primadona
Pengalaman Fidelity Magelland Fund, sebuah perusahaan Danareksa di USA
melalui CEO-nya, Peter Lynch, Morris Smith, dan Jeffrey Vinik, amat sukses
memperoleh tenbagger atau keuntungan 10 kali lipat dari industri
berbasis teknologi di tahun 1995 yang pada saat itu menjadi primadona di USA
serta mengungguli pendapatan S&P 500 (Bruner, 2003). Keberhasilan Magelland
Fund tidak semata-mata karena faktor luck tetapi karena dukungan 100
orang periset yang dimilikinya. Melihat
posisi product life cycle suatu industri akan membantu investor untuk
memprediksikan prospek saham yang dibeli.
- Menanti technical
rebond untuk mendapat gain besar
Pada saat pasar lesu dan kondisi kacau yang dipicu oleh overreact investor,
laba besar masih mungkin untuk diperoleh. Buy when
there is blood in the street, pepatah itu banyak dilakukan
oleh Magelland fund yang justru membeli saham pada saat orang panik yang dipicu
oleh emosi yang berlebih. Dalam pasar modal ada suatu pola yang selalu terjadi
yaitu bila saham sudah turun pasti suatu saat nanti akan berubah arah (technical
rebound) dan akan naik, sebaliknya jika harga saham naik suatu saat akan
berbalik arah dan akan turun. Investor tetap dapat memperoleh keuntungan dari
kondisi seperti ini asalkan investor sabar menunggu saatnya tiba. Investasi
jangka panjang dapat menetralisir penurunan yang terjadi dengan menanti
terjadinya rebound. Pertanyaannya, untuk berapa lama investor harus
menunggu? Buy on the rumors and sell on the news,
jika yakin bahwa penurunan yang terjadi lebih-lebih diakibatkan rumors,
maka membeli saham yang dijual karena kepanikan dan menjualnya kembali pada
saat kondisi membaik. Sebagai catatan: jika harga turun sampai 30% perhari akan
ada otomatic rejection oleh bursa (suspend)
- Beware! The thundering
herd will be blundering herd
Investor
institusi (dana pensiun, kesejahteraan karyawan, asuransi, dan reksadana)
dengan dananya yang amat besar mendominasi perdagang-an. Diasumsikan investor
institusi sebagai kawanan hewan yang bergemuruh menuju kesuatu arah, thundering
herd. Gemuruhnya investor institusi banyak mengundang investor individu
untuk mengikutinya (hal ini terjadi juga bagi investor domestik yang mengikuti
investor asing). Kesalahan analisis investor institusi yang dengan mudah
mengalihkan dananya akan menjadi bumerang bagi investor individu yang
mengikutinya karena akan menjadi blundering herd, tergilas. Saham yang dibeli oleh investor institusi
yang tidak bergerak atau bergerak amat tipis, tetap dapat menguntungkan bagi
investor institusi karena jumlah dana yang besar. Untuk perusahaan individu,
perubahan yang amat kecil hanya cukup untuk menutup biaya transaksi (0,3% untuk
beli dan 0,4% jual dengan biaya transaksi minimal sebesar Rp20.000) dengan
perubahan tick. Kenaikan/penurunan satu tick berbeda-beda sesuai
dengan harga saham:
0 - Rp500 =
Rp5,-
Rp500 - Rp5000 =
Rp 25
>Rp 5000
= Rp 50
- Membeli
saham yang menawarkan buyback
Buyback artinya
ada opsi dibeli kembali oleh emiten yang mengeluarkan saham tersebut. Opsi ini menjadi suatu tawaran yang menarik
karena memberikan indikasi bahwa saham tersebut cukup menarik dan menjanjikan
dimasa depan. Contoh saham Aqua yang banyak menawarkan buyback walaupun
banyak investor yang lebih menyukai untuk mempertahankannya (hold)
daripada menjualnya kembali. Strategi buyback ini sering digunakan oleh
emiten untuk meningkatkan harga. Buyback berdasarkan aturan bursa hanya
dibatasi 10% dari jumlah saham yang beredar untuk menjaga likuiditas. Perlu
diwaspadai bahwa strategi buyback digunakan emiten untuk melakukan window
dressing, menutupi kondisi fundamental emiten senyatanya.
B. Bagaimana Memilih Saham?
Aturan-aturan
yang masuk akal berikut ini merupakan pedoman dalam memilih saham yang akan
dibeli di pasar.
- Sebaiknya memilih
saham yang undervalued
Bijaksana jika memilih
saham yang mempunya pengalaman memberikan earnings
yang konsisten dan growing earning
yang cepat. Jika nilai saham lebih tinggi dari harganya maka harga disebut undervalued, maka saham jenis ini adalah
kandidat untuk dipilih. Saham yang undervalued akan memberikan
kesempatan sebagai “winner” dan menghindari dari risiko bila dibandingkan
dengan saham yang overvalued.
- Sebaiknya memilih
saham yang aman
Harga beberapa saham
bagaikan sebuah yoyo yang naik-turun (di Indonesia misalnya pada tahun 2002,
Tambang Timah/TINS dan saham-saham bank) dan selalu menimbulkan berita, tetapi ada pula saham
yang selalu stabil tenang tidak terlalu berfluktuasi (contoh misalnya,
Uniliver, dan HM Sampurna). Kelompok
saham pertama mempunyai volatilitas tinggi sebagai pencerminan ketakutan, kekawatiran, dan ketidakpastian dimasa
depan, sedangkan kelompok lainnya mempunyai track
records earnings performance yang stabil. Volatilitas harga dan peningkatan
risiko disebabkan oleh berbagai macam hal seperti, rumors (di Indonesia amat kental nuansanya), pembunuhan secara
politik, bencana alam, kondisi keamanan dan lain sebagainya yang menimbulkan
kekalutan dan ketidakpastian. Shareholders
dengan tingkat kepercayaan yang kecil akan mudah sekali overreact dengan adanya bad
news ini. Akibatnya, harga saham dengan earnings
performance yang tidak konstan akan lebih menderita bila hal-hal buruk
tersebut terjadi. Saham dengan earning
yang dapat diprediksikan dan kontinyu akan lebih kuat bertahan dari semua
goncangan tersebut. Jelasnya, akan kurang berisiko jika membeli saham dengan
kondisi finansial yang stabil daripada perusahaan yang labil (sebagai catatan:
saham-saham bukan first layer dapat
pula memberikan gain lebih besar jika terjadi overreact
hyphotesis).
- Sebaiknya memilih
saham yang harganya sedang naik
Yang paling sulit bagi para investor
adalah membeli saham pada saat harga sedang naik. Sebagian dari para investor
akan berfikir untuk menunggu sampai harga saham turun sebelum membelinya. Ide
membeli saham pada harga rendah masuk akal tetapi itu merupakan kesalahan. Pertama,
investor akan kehilangan kesempatan karena saham yang baik tidak akan turun
begitu harganya naik. Membeli saham pada harga rendah dan menjualnya pada harga
tinggi memang impian setiap orang tetapi seringkali kita tidak pernah tahu kapan titik terendah terjadi dan kapan titik
tertinggi dapat diraih.
III. ANALISIS FUNDAMENTAL
A. EFFICIENT
MARKET THEORY
Efficient
Market Theory
(Teori Pasar Efisien) mengatakan bahwa harga sekuritas dinilai secara pas dan
benar serta merefleksikan semua informasi dan ekspektasi investor. Teori ini
menyatakan bahwa investor tidak dapat mendapatkan keuntungan dari pasar saham
secara konsisten karena pasar mengikuti IID (Identically Independent Distributed). Pasar bereaksi sesuai dan
segera setelah informasi baru datang. Oleh karena itu diasumsikan bahwa pasar
mempunyai harga yang pas/tepat tidak terjadi undervalued atau overvalued
untuk semua sekuritas dalam jangka waktu lama sehingga dapat diperoleh
keuntungan dari transaksi beli/jual.
Menurut teori pasar
efisien, harga mencerminkan semua informasi yang tersedia dan informasi datang
secara random/acak sehingga investor tidak akan mendapatkan keuntungan walau
menggunakan semua tipe teori yang ada, baik fundamental maupun teknikal. Pasar
efisien jika informasi sempurna atau simetris. Informasi disebut sempurna jika
memenuhi tiga syarat, yaitu (1) secara kualitas (quality), (2) waktu (time),
dan persepsi (perception) diterima
sama oleh semua fihak. Informasi simetri jika diasumsikan bahwa setiap detail
informasi telah dikumpulkan dan diproses oleh ribuan investor dan informasi
tersebut (baik yang lama atau baru) sudah dinilai secara tepat yang tercermin
pada harga yang terbentuk.
Dalam kenyataanya informasi
tidak bisa fully efficient tetapi economically efficient, yaitu secara weak-form bila informasi pasar yang diketahui;
semi-strong form berdasarkan atas informasi yang dipublikasikan; dan strong-form jika semua informasi baik
pasar, publik, maupun privat diketahui. Pengujian weak-form efficient dengan
melihat anomali pasar (overreact
hypothesis). Pengujian semi-strong
melalui event study dengan melihat abnormal return sebelum, saat dan
sesudah event terjadi. Pengujian strong-form dilakukan dengan memasukkan
semua unsure informasi yang ada.
Return tidak dapat ditingkatkan
dengan mempelajari data saham historis, baik menggunakan fundamental maupun teknikal karena data
lampau tidak berpengaruh terhadap harga kini dan harga diwaktu yang akan
datang.Persoalan yang timbul pada analisis fundamental dan teknikal adalah
keduanya melakukan ekspektasi berdasarkan pada harga saham masa lampau. Menurut teori pasar efisien, return tidak dapat diperoleh walaupun
investor telah menggunakan indikator analisis teknikal yang mempunyai track
record hebat, kondisi oversold, maupun menggunakan trend
industri dls. Sebaliknya, informasi tidak simetri atau pasar tidak
efisien jika ekspektasi investor dapat mengendalikan harga. Artinya, harga masa lampau
mempunyai pengaruh yang signifikan mempengaruhi harga yang akan datang.
B. FUNDAMENTAL
ANALYSIS
Fundamental
analysis (analisis fundamental) merupakan analisis mengenai
ekonomi, industri, dan perusahaan yang menentukan nilai saham perusahaan.
Analisis fundamental memfokuskan pada statistik laporan keuangan perusahaan
untuk menentukan harga saham dinilai secara tepat. Sebenarnya, dalam
menganalisis nilai suatu saham akan lengkap jika menggunakan analisis
fundamental dan analisis teknikal.
Analisis fundamental
digunakan sebagai penunjuk arah/baromenter jangka panjang (long-term point of view). Analisis fundamental melihat perkembangan
rasio-rasio keuangan dari sisi likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, market to book value analysis, turnover, dan kebijakan keuangan
perusahaan dalam melakukan investasi dan pendanaan. Selain itu, perkembangan
kinerja dan kebijakan dividen dapat melengkapi analisis fundamental.
Analisis teknikal
lebih bersifat jangka pendek karena hanya menggunakan harga saham historis
(merupakan last done) sebagai
pedoman. Sering terjadi mengaplikasikan analisis teknikal ke grafik dengan
menggunakan data fundamental, misalnya membandingkan trend tingkat bunga dengan
perubahan harga sekuritas. Juga populer menggunakan analisis fundamental untuk
memilih sekuritas dan kemudian menggunakan analisis teknikal untuk melihat
perdagangan secara individual. Investor akan mendapatkan keuntungan jika
menggunakan kedua analisis.
Kebanyakan
informasi fundamental memfokuskan pada statistik ekonomi, indusrtri, dan
perusahaan. Ada empat konsep dasar dalam melakukan analisis. Pendekatan yang
digunakan untuk menganalsis sebuah perusahaan dilakukan melalui empat tahap (top-down analysis)
1.
melihat kondisi ekonomi secara umum (economic aspect);
2. melihat kondisi industri (industry aspects);
3. melihat kondisi perusahaan
(company aspects);
4. melihat nilai saham
perusahaan (stock valuation).
1. Economic Analysis (Analisis
Ekonomi)
Ekonomi dipelajari untuk
menentukan kondisi secara makro/keseluruhan untuk melihat lingkungan pasar
saham pada saat ini kondusif/tepat atau tidak. Apakah inflasi perlu diwaspadai?
Apakah tingkat bunga cenderung naik atau turun? Berapa penghasilan rata-rata
masyarakat saat ini yang mampu untuk investasi? Berapa konsumsi masyarakat saat
ini? Bagaimana neraca pembayaran negara saat ini, defisit atau surplus? Apakah money supply saat ini diperbanyak atau
dikurangi (tight money policy)?
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah hal-hal yang perlu diketahui untuk
menentukan kondisi ekonomi, apakah kondusif untuk berinvestasi di pasar saham.
Aspek ekonomi dapat
bersifat internasional, regional, dan nasional baik secara makro maupun mikro. Lingkungan ekonomi
internasional, lingkungan ekonomi domestik, dan lingkungan bisnis. Contoh harga
minyak dunia; harga emas dunia; tingkat bunga dunia, regional dan nasional;
inflasi; nilai tukar; kondisi politik;
neraca pembayaran; cadangan devisa; dan bencana alam.
2. Industry Analysis
Industri perusahaan jelas
mempengaruhi perusahaan. Analisis industri merupakan lingkungan industri untuk
melihat prospect of industry. Misal,
tahun 2006: jangka panjang:
pertambangan, gas, dan energi; telekomunikasi; jangka menengah: infrastruktur dan properti serta pendukungnya; jangka pendek: tergantung fluktuasi
musiman, seperti pertanian, makanan). Jangka panjang dan menengah
digunakan untuk real gain, jangka
pendek digunakan untuk netting.
Mengetahui kondisi industri perusahaan amat
penting. Walaupun saham yang bagus tetapi jika berada dalam industri yang
sedang mengalami kesulitan, maka return
yang diperoleh hanya cukup saja. Ada suatu pepatah yang
menyatakan bahwa a weak stock in a strong
industry is preferable to a strong stock in a weak industry. Jadi, saham
yang tidak bagus tetapi dalam industri yang bagus lebih menguntungkan daripada
saham bagus dalam industri buruk.
3. Company Analysis
Analisis perusahaan
digunakan untuk mengetahui kesehatan finansial perusahaan yang bersangkutan.
Untuk mengetahui kesehatan keuangan perusahaan dilakukan dengan mempelajari
laporan keuangan. ratio keuangan, dan cash
flow.
Rasio-rasio keuangan dihitung dari laporan
keuangan. Ada lima kelompok rasio
keuangan, yaitu profitability (keuntungan), price (harga), liquidity (likuiditas),
leverage (hutang), dan efficiency (efisiensi). Untuk
melihat kinerja perusahaan melalui rasio keuangan, biasanya dibandingkan dengan
perusahaan lainnya dalam industri yang sama untuk menentukan posisi perusahaan apakah "normal" atau “tidak
normal.” Selain di bandingkan dengan perusahaan lain, kinerja
keuangan juga dapat dibandingkan dengan pasar (diwakili dengan indeks). Berikut ini adalah
rasio-rasio yang biasa populer digunakan.
a. Net
Profit Margin (NPM).
Rasio profitabilitas NPM dihitung dari Net Income (laba bersih) dibagi
dengan Total Sales (jumlah penjualan).
Net Income
NPM = ---------------
Total Sales
Rasio ini mengindikasikan berapa banyak keuntungan
perusahaan yang di dapatkan dari setiap rupiah penjualan yang terjadi. Sebagai contoh, NPM = 30%
mengindikasikan bahwa Rp0,30 dari setiap Rp1 penjualan menghasilkan keuntungan.
b. P/E
Ratio (Price/Earnings
ratio).
Rasio P/E adalah rasio harga yang dihitung dari current stock market price (harga pasar saham saat ini) dibagi
dengan earnings
per share (EPS)
atau (pendapatan perlembar saham) 4 triwulan yang lalu. EPS diperoleh dari net
income (laba bersih) atau earning
after tax (EAT) dibagi dengan total
share outstanding (jumlah lembar saham yang beredar).
Current stock market price Net Income (EAT)
P/E =
------------------------------------ EPS
= ------------------------
EPS Total
share outstanding
Rasio P/E memperlihatkan berapa yang
harus dibayar oleh investor untuk “membeli” Rp1 earning perusahaan. Sebagai
contoh, jika harga pasar sekarang dari sebuah saham adalah Rp2000 dan EPS 4
triwulan yang lalu adalah Rp 200, maka rasio P/E adalah 10 (Rp2000 / Rp200 =
10). Artinya, investor harus membayar Rp10 untuk “membeli” Rp1 earning perusahaan. Tentunya, ekspektasi investor terhadap kinerja
perusahaan diwaktu yang akan datang memegang peranan penting dalam mementukan
rasio P/E perusahaan. Pendekatan umum yang biasa digunakan adalah dengan
membandingkan dengan P/E perusahaan lain dalam industri yang sama. Jika hal
lainnya tetap, maka perusahaan dengan rasio P/Eyang rendah mempunyai nilai
lebih baik.
c.
Book Value Per Share.
Book
Value
(nilai buku) perusahaan adalah rasio harga yang dihitung dengan membagi total net assets (aset dikurangi hutang) dengan total shares outstanding (jumlah lembar saham yang beredar). Nilai buku tergantung pada metode
yang digunakan dan umur aset. Nilai buku berguna untuk menentukan apakah
saham overpriced (dinilai terlalu tinggi) atau under-priced (dinilai terlalu rendah). Apabla sebuah sekuritas
dijual pada harga jauh di bawah nilai buku, maka diindikasikan bahwa sekuritas
tersebut adalah under-priced.
Total net assets
Book Value per share = --------------------------------
Total shares outstanding
Total net assets = Total
assets-liabilities
Bila market value (harga pasar)
> book value, maka saham overpriced/ overvalued ® strategi: jual saham
Bila market value < book value,
maka saham under-priced/undervalued ® startegi: beli saham
d. Current
Ratio
Current ratio adalah
rasio likuiditas, dihitung dari current assets (aset lancar) dibagi dengan current liabilities (hutang lancar). Rasio ini digunakan untuk
mengetahui kemampan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Makin
tinggi rasio, maka perusahaan makin likuid. Sebagai contoh current ratio 3.0, artinya aktiva lancar perusahaan jika
dilikuidasi dapat digunakan untuk membayar 3 kali hutang lancar perusahaan.
Current Assets
Current Ratio =
------------------------
Current Liabilities
e.
Debt Ratio
Debt
ratio
perusahaan adalah leverage ratio
(rasio hutang) dihitung dari total
liabilities di bagi dengan total
assets. Rasio ini mengukur seberapa besar aset total yang didanai
oleh hutang. Sebagai contoh, debt
ratio 40%
mengindikasikan bahwa 40% aset perusahaan telah didanai oleh hutang. Hutang bagaikan pedang bermata dua.
Pada kondisi ekonomi buruk (resesi) atau tingkat bunga tinggi, maka perusahaan
dengan rasio hutang tinggi akan mengalami problem keuangan. Sebaliknya, dalam
keadaan ekonomi baik (boom),
maka hutang dapat digunakan untuk memacu
mendapatkan keuntungan lebih besar melalui tingkat pertumbuhan keuangan pada
biaya rendah.
Total liabilities
Debt ratio =
------------------
Total
assets
f.
Inventory Turnover
Inventory
turnover
perusahaan adalah rasio efisiensi yang dihitung dengan membagi cost
of goods sold (harga pokok penjualan) dengan inventories (persediaan barang dagangan). Rasio ini mencerminkan
efektifitas manajer perusahaan dalam memanajemeni persediaan barang dagangannya
melalui berapa kali per tahun persediaan beralih tangan. Tentu saja rasio ini
tergantung pada industrinya. Toko seperti Alfa, Makro, Indo Grossir, atau
Carrefour mempunyai turnover yang
lebih tinggi daripada perusahaan penerbangan. Oleh karena itu amatlah penting
untuk membandingkan dengan perusahaan lain dalam suatu industri yang sama.
Cost
of goods sold
Inventory turnover =
------------------------
inventories
Cost
of goods sold = persediaan awal + pembelian –
persediaan akhir
Selain rasio-rasio di atas, masih banyak rasio-rasio lain yang
digunakan untuk menilai kinerja perusahaan seperti:
Kelompok liquidity ratio (short-term solvency)
Current assets Current assets-Inventory
Current ratio = ------------------- Quick
ratio = ---------------------------------
Current liabilities Current liabilities
Cash Current
assets
Cash ratio = -------------------------- Interval measure= ------------------------
Current
liabilities Average daily operating cost
Net working capital
Net working capital to total assets = ---------------------------
Total
assets
Kelompok long-term solvency
atau financial leverage ratio
Total
assets-Total equity Total
debts
Total debt ratio = --------------------------- Debt-equity ratio = -------------------
Total
assets Total equity
Total
assets EBIT + Depreciation
Equity multiplier = ------------------- Cash coverage ratio=
------------------------
Total
equity Interest
Long-term
debt
Long-term debt ratio = -----------------------------------
Long-term debt + total
equity
EBIT
Times interest earned ratio = -----------------
Interest
Kelompok asset utilization
(turnover) ratio
Cost
of goods sold 365
Inventory turnover = ----------------------- Days’ sales in inventory = --------------
Inventory Inventory
turnover
Sales 365
Receivable turnover = --------------------- Days’ sales in receivables =
------------
Account
receivable Receivable turnover
Sales Sales
Net working capital turnover = --------- Fixed asset turnover = -------------------
NWC Net
fixed assets
Sales
Total asset turnover = -------------------
Total assets
Kelompok profitability ratio
Net income Net
income
Profit margin= -------------------- Return
on assets (ROA) = ------------------
Sales Total
assets
Net income Net income
Return on equity (ROE) =--------------- Return on Investment (ROI) = -----------
Total
equity Total investment
Du Pont Identity
Du Pont identity membagi ROE ke dalam 3 bagian, yaitu operating efficiency (diukur dengan profit margin), asset use
efficiency (diukur dengan total asset
turnover) dan financial leverage
(diukur dengan equity multiplier)
NI NI Assets NI
Assets
ROE = --- = ------- X
-------- = --------- X --------
TE TE Assets Assets
TE
Sales
NI Assets NI Sales
Assets
ROE = --------- X
-------- X --------
= --------- X --------- X
------
Sales Assets TE Sales Assets TE
ROA
ROE = Profit margin X Total assets turnover X Equity multiplier
ROE = ROA X Equity multiplier
= ROA X (1 + Debt-equity ratio)
Kelompok market value ratio
Price
per share
Price-earning ratio = ------------------------
Earnings
per share
Market value per share
Market-to-book ratio = ------------------------------
Book value per share
C. PENILAIAN HARGA SAHAM
Setelah melihat kondisi
ekonomi, industri, dan perusahaan, analis fundamental memperkirakan saham
perusahaan apakah overvalued, undervalued, atau correctly valued
(pas/tepat/wajar). Beberapa model penilaian dapat digunakan untuk menilai harga
suatu saham. Dalam penilaian tersebut termasuk juga menggunakan model dividen (dividend model) yang
memfokuskan pada harga sekarang melalui besarnya saham yang diekspektasikan; model earning
(earnings model), fokus terhadap
ekspektasi earnings; dan model aset (asset model), fokus
terhadap nilai aset perusahaan.
Dividen perusahaan
merupakan pencerminan atas current
performance (kinerja perusahaan sekarang) dan future prospect (prospek dimasa depan). Earnings merupakan pencerminan prestasi perusahaan dalam
menghasilkan pendapatan. Earnings
berasal dari dividend (pembagian
keuntungan perusahaan) dan capital gain
(kenaikan harga saham dihitung pada saat saham di jual dikurangi saat saham di
beli). Aset memperlihatkan harta yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, makin
tinggi aset makin berkembang perusahaan tersebut.
Dividend
model Dividend
growth model
D D1
P0 = ---------- P0
= --------
k k-g
P0 = intrinsic
value/theoretical value/expected value (nilai intrinsik/nilai ekspektasi)
D =
Dividend
D1 = Dividend pada tahun
ke 1= D0 (1 + g)
k =
required return (return yang diinginkan)
g =
dividend growth
Bila Market Value > Intrinsic Value,
maka harga saham overvalued ® strategi: jual
Bila Market Value < Intrinsic
Value, maka harga saham undervalued
®
strategi: beli
Tidak diragukan bahwa
analisis fundamental memegang peranan penting dalam penentuan harga saham. Walaupun
ekspektasi harga berdasarkan pada faktor-faktor fundamental memberikan arah
jangka panjang, penting juga untuk mengetahui histori harga sehingga dapat
diketahui bahwa saham yang undervalued
tersebut memang tetap undervalued.
Keunggulan analisis fundamental
1.
Analisis
fundamental amat berguna dalam menentukan arah jangka panjang
2.
Lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya
3.
Bisa menjelaskan lebih tepat mengenai alasan mengapa
harga naik atau turun
4.
Mampu memberikan dasar yang logis dalam pengambilan
keputusan investasi
Kelemahan analisis
fundamental
1.
Memakan banyak waktu
2.
Sulit berfungsi pada pasar modal tidak efisien karena
asumsi dasarnya adalah pasar efisien
3.
Asumsi pasar efisien sulit diterapkan karena informasi
dapat sempurna berdasarkan atas kualitas dan waktu, tetapi tidak mungkin sama
dalam persepsi. Fully effisien tidak mungkin terjadi,
hanya economically effisien (weak-form; semi-strong form; dan strong-form).
4.
Tidak dapat menggambarkan psikologi pasar dan investor
saat itu
5.
Tidak fleksibel untuk menentukan periode waktu yang diinginkan
IV. ANALISIS TEKNIKAL
Kunci sukses
dalam investasi adalah pengetahuan dan action. Awalnya, analisis teknikal diaplikasikan di equity
market tetapi kemudian secara bertahap kepopulerannya dikembangkan di pasar
komoditi, instrumen-instrumen hutang, mata.uang, dan pasar-pasar internasional
lainnya (Pring, 2002). Tidak alasan
mengapa seseorang tidak dapat memperoleh keuntungan dipasar keuangan. Analisis teknikal amat
berguna untuk memprediksi dan mengidentifikasikan emerging trends
“Not earnings, nor
dividends, nor risk, nor gloom of high interest rates stay the chartist from
their assigned task: studying the price movements of stocks.” Kata-kata tersebut sering dilontarkan orang di Wall
Street (Malkiel, 1990: 130). Para
praktisi melihat bahwa dalam membeli saham yang terpenting adalah melihat
kecenderungan dari “crowds” yang tercermin pada grafik-grafik (charts) seperti: trend
following indicators, oscillator indicators, dan miscellaneous indicators.
Pendekatan
teknikal untuk keputusan investasi merefleksikan ide bahwa harga bergerak dalam
trends yang dicerminkan dengan
perubahan perilaku investor dalam menaksirkan ekonomi, moneter, politik, dan
psikologi. Seni
pendekatan teknikal adalah identify trend
changes at an early stage and to maintain an investment posture until the
weight of the evidence indicates that the trend has reversed (Pring, 2002:
2). Dasar pemikirannya adalah manusia sebagai makluk pada dasarnya kurang lebih
konstan dan trend bereaksi pada situasi yang kurang lebih sama dengan cara yang
konstan. Dengan mempelajari titik balik pasar sebelumnya akan
dimungkinkan untuk melihat beberapa karakteristik yang dapat membantu
mengidentifikasikan titik tertinggi dan titik terendah pasar.
Analisis teknikal
berdasarkan atas asumsi bahwa orang akan selalu melakukan kesalahan yang sama
seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Hubungan manusia amat komplek dan
tidak pernah sama satu sama lainnya. Pasar yang merefleksikan keinginan orang
tidak pernah identik dalam performance-nya
tetapi kesamaan karakteristiknya dapat digunakan untuk menentukan major juncture points. Analisis teknikal
membuat alat sebagai indikator dalam menangkap dan mengisolasi titik-titik yang
mencerminkan cyclical market juncture.
Analisis teknikal dapat
dibagai ke dalam 3 area pokok, yaitu: (1) sentiment, (2) flow-of-funds,
dan (3) market structure indicators.
Sentimen merupakan expectational
indicators yang memonitor emosi para
investor. Jadi indeks sentimen bergerak dari satu titik ekstrem pada bear market bottom ke bull market top. Asumsi indikator ini
adalah kelompok investor yang berbeda konsisten dengan aksinya pada major market turning points. Flow-of-funds indicators menganalisis
posisi finansial dari berbagai macam kelompok investasi untuk mengetahui
potensinya dalam membeli dan menjual saham. Harga dimana transaksi tersebut
terjadi harus sama antara pembeli dan penjual. Sehingga jumlah uang yang
mengalir ke luar harus sama dengan uang yang mengalir masuk. Pendekatan flow-of-funds amat peduli dengan before-the-fact balance antarpenawaran
dan permintaan atau disebut hubungan ex
ante.
Market
structure indicators
atau character of the market indicators
memonitor trend dari berbagai indeks harga, market breadth, siklis, volume dan hal-hal lain dalam rangka
mengevaluasi “kesehatan” bull dan bear markets. Biasanya, waktu, harga dan ukuran internal seperti market breadth, momentum, dan volume
naik dan turun secara bersama-sama tetapi pada akhir gerakan pasar
indikator-indikator ini akan menyimpang dari harganya. Analisis teknikal
berdasarkan atas teori yang menyatakan bahwa harga merefleksikan psikologi masa
(the crowd) dalam aksinya. Oleh karena itulah gerakan harga
dimasa yang akan datang juga mendasarkan atas psikologi massa yang bergerak diantara rasa panik,
ketakutan, dan rasa tidak percaya diri disatu sisi dengan rasa percaya diri,
terlalu optimis, dan keserakahan disisi lainnya.
Pergerakan harga dapat
diklasifikasikan dalam: (1) gerakan pokok atau primary/cyclical
yang merefleksikan sikap investor
terhadap siklus bisnis dengan periode 1 sampai 3 tahun; (2) intermediate
dengan periode 3 minggu sampai beberapa bulan; dan (3) short term
movement dengan periode 3 atau 4 minggu cenderung bersifat random.
A. Konsep Dalam Technical Analysis
- Market action
discounts everything, “never what they (stocks) are
worth but what people think they are worth”
(Drew, 1968: 18). Gerakan yang pokok dalam obligasi, saham, dan harga
komoditas disebabkan oleh trend jangka panjang oleh emosi investasi yang dilakukan publik. Emosi ini mencerminkan tingkat antisipasi dan
tingkat perkembangan aktiviras ekonomi dimasa datang dan sikap para
investor terhadap aktivitas tersebut.
- Prices move in trends. Pasar keuangan bergerak dalam trend yang disebabkan oleh adanya
perubahan sikap dan ekspektasi investor terhadap siklus bisnis. Analisis
teknikal mencoba untuk mengidentifikasi-kan titik belok (turning point) dari price trend secara rata-rata yang diakibatkan oleh kekuatan dan kelemahan
laten struktur pasar. Trend dari optimisme investor mempengaruhi
pergerakan harga. Aspek emosi dapat
dilihat dari empat (4) dimensi, yaitu price, time, volume, dan breadth. Perubahan harga merefleksikan tingkat
perubahan sikap investor. Waktu mengukur panjangnya siklus psikologi
investor. Makin lama seorang investor untuk bergerak dari elemen bullish ke bearish, makin besar pula
perubahan harga tersebut menuju kesuatu arah. Volume merefleksikan
intensitas perubahan sikap investor. Breadth, mengukur lamanya emosi investor. Analisis teknikal mengukur
dimensi psikologi dalam berbagai cara. Kebanyakan indikator memonitor dua
atau lebih aspek secara simultan. Tidak ada satu indikatorpun yang dapat
mengekspektasikan sinyal dari semua perubahan trend, maka amat perlu untuk menggunakan sejumlah indikator secara
bersama-sama untuk membangun konsensus mengenai apa yang akan terjadi.
- History repeats itself. Analisis teknikal
mempercayai bahwa data historis mempengaruhi harga saham sekarang dan yang
akan datang. Harga saham mempunyai pola yang selalu berulang-ulang
sepanjang masa. Pola tersebut mengikuti pola peak-and-trough
(puncak dan lembah) yang amat sederhana tetapi efektif mengidentifikasikan
pergerakan saham.
B. Jenis-Jenis
1.
DOW
THEORY
Teori ini didasarkan atas penemuan Charles H. Dow
yang mendasarkan pada arah sebuah trend
dan tidak pada nilai prediksi durasi puncak
atau ukuran dari trend. Dow menggunakan perilaku pasar saham sebagai
barometer kondisi bisnis dan tidak pada prediksi harga saham itu sendiri.
Asumsi teori Dow adalah mayoritas saham mengikuti trend pasar yang ada pada
waktu itu. Untuk mengukur “pasar” Dow membuat dua buah indeks, yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA), yang merupakan saham-saham papan atas (blue-chip/first layer) dan Transportation Average (dulu bernama Dow Jones Rail Average,
hanya untuk saham-saham dari perusahaan kereta api).
Pasar mempunyai tiga buah gerakan, yaitu primary movement, secondary reactions, dan
minor movement. Yang terpenting adalah primary/major trend yang biasanya dikenal dengan sebutan bull (rising) atau
bear (falling)
market
*Major Trend/primary trend:
1th-2 th atau lebih, seperti air pasang (tide)
a.
accumulation
stage
(harga bergerak lambat), peserta mulai ikut ambil posisi beli
b.
bull
market model
(beli)/markup phase, harga ↑ karena ada akumulasi beli
c.
bear
market model/distribution
stage (jual), terjadi anti klimak (over
priced)
Long-term investor pada prinsipnya lebih memperhatikan arah primary trend karena dalam menentukan
prespekstif pada bull atau
bear market. Jika kenaikan membutuhkan waktu lebih lama
daripada waktu penurunan, maka terjadinya bull market biasanya lebih lama
daripada bear market.
Kerugian trading terjadi karena trader
dalam posisi yang berlawanan dengan posisi trend utama.
*Intermediate trend: 3
minggu-6 bulan, seperti gelombang (wave)
*Minor
Trend: 1 minggu-3 minggu, seperti riak air (ripples) Untuk transaksi jangka pendek dalam pasar futures lebih memperhatikan perubahan
harga yang lebih kecil tetapi juga tetap membutuhkan arah primary dan intermediate
trend. Kejutan muncul biasanya pada upside pada bull market dan dowside pada
bear market. Kenaikan trend jangka pendek diantara bull market lebih besar dalam ukuran
daripada downtrends jangka pendek,
dan sebaliknya.
Untuk memperjelas lihat Gambar 1 yang
mencerminkan ketiga macam trend tersebut
di atas.
Gambar 1.
Jenis trend dalam teori Dow
Catatan:
~ Trend
ditunjukkan oleh trading volume, pergerakan naik bisa dipertimbangkan
sebagai trend naik (up trend) bila diikuti dengan kenaikan
volume secara bersamaan menandakan trend tersebut signifikan.
~Trend akan terus berlanjut
sampai ada sinyal tertentu yang menunjukkan adanya titik balik (reversal).
Selain
trend naik ada pula trend turun (down trend), jika trend turun tetapi volume naik menunjukkan
penurunan tersebut tidak signifikan, dan sebaliknya. Data tetap disebut sideways. “Harga bergerak dalam Trend” – The trend is your friend, go with your trend. Makin panjang
jangka waktu trend, maka makin mudah untuk diidentifikasikan.
1.
Semakin
banyak harga saham yang menyentuh garis trend, semakin valid/kuat garis trend
tersebut.
2.
Semakin
besar sudut kemiringan garis trend semakin kuat garis trend
tersebut.
3.
Kuat/arah trend ditentukan oleh volume yang
terjadi pada saat harga saham bergerak.
4.
Penembusan
(breakout) dari garis trend yang diikuti pula dengan volume yang
tinggi merupakan sinyal perubahan trend dapat terjadi.
5.
Trend yang telah berlangsung
selama 2 tahun lebih mempunyai arti daripada yang baru terjadi selama 2 bulan.
Dengan adanya intraday
data melalui automatic trading mechanism, maka intraday trend
juga dapat diperoleh berdasarkan atas real-time trading. Pergerakan
yang amat pendek tetap dapat dianalisis dengan konsep trend yang sama,
hanya harus diperhatikan ada dua macam berbedaan:
1.
pembalikan dalam grafik menit atau jam hanya mempunyai
implikasi sangat pendek dan tidak signifikan untuk pembalikan harga jangka
panjang,
2.
harga
pasar yang sangat pendek lebih-lebih karena pengaruh psikologi dan reaksi instant
semata yang diakibatkan oleh berita /rumor sesaat. Keputusan yang
diambil hanya atas dasar tendensi emosi sesaat akan tidak menguntungkan. Aksi
harga intraday lebih bersifat manipulasi (saham gorengan/hot stock).
2.
ELIOT
WAVE PRINCIPLE
Menurut Eliot ada 5 wave, 3 naik dan 2 turun. Jika harga
bergerak naik, kemudian turun, naik lagi tetapi lebih tinggi dan kemudian turun
lagi, maka kejadian ini memberikan indikasi harga bersifat HEAD AND
SHOULDER (H&S) sehingga
harapannya pola akan berulang lagi diwaktu akan datang. H&S merupakan
grafik pola yang paling reliabel. Formasi H&S muncul pada market tops
maupun pada market bottoms Pasar REBOUND-bergerak naik,
kemudian pasar akan BEARISH (turun). Pola ini terdiri atas
“kepala” yang dibagi ke dalam dua buah “bahu” berujud lembah (though)
yang tidak persis sama. Bahu yang pertama muncul pada bull market dan
bahu kedua mempengaruhi awal bear market (lihat Gambar 2). Pola
H&S dapat terbentuk dalam 3 sampai 4 minggu atau dapat juga beberapa tahun
dalam pembentukannya.
Pola H&S
merupakan formasi yang amat cocok untuk melihat indikasi trend yang
membalik (trend reversal). Umumnya, volume akan menjadi relatif tinggi
pada dasar bahu kiri dan selama pembentukannya pada kepala. Faktor utama yang
penting adalah melihat aktivitas bahu kanan yang menurun ke lembah dan melebar
secara berarti pada titik patahnya.
Mengukur implikasi dan karakteristik
volume dalam H&S adalah sama seperti jika melihat pada titik balik trend,
bedanya pola H&S terjadi “selama” trend berlangsung sedangkan pada
pembalikan trend biasanya terjadi pada akhir periode.
Gambar 2. Head
and Shoulder
Elliott Wave Principle disusun pada tahun 1930 an
oleh R.N. Elliott dan kemudian sebagaian besar popularitasnya karena usaha
Hamilton Bolton, former president of the National Federation. Menurut
Eliot, semua perubahan pasar saham dapat dibagi ke dalam gelombang-gelombang
atau siklus-siklus dari berbagai magnitudes (besaran) dan masing-masing
gelombang dapat dibagi lagi ke dalam gelombang-gelombang dari magnitude
yang lebih kecil. Elliott memberikan terminology untuk menggambarkan magnitude
ini dan menyebutnya dalam urutan menurun atas dasar pentingnya, yaitu Grand Super Cycle, Super Cycle, Cycle,
Primary, Intermediate, dan Minor.
Prinsip (tenet) yang paling penting dari Ellliot
Wave Principle adalah gerakan-gerakan utama terjadi dalam lima gelombang. Dalam suatu major bull market, gelombang pertama adalah ke
atas, kedua menurun, ketiga ke atas, keempat menurun, dan kelima dan tahap
final ke atas. Menurut teori ini, masing-masing gelombang ke atas tersebut
lebih lanjut dapat dibagi lagi menjadi lima
pola gelombang (wave patterns), dan
seterusnya ad infinitum (terus
menerus, tidak berhenti). Gelombang kedua dan keempat dibagi secara berbeda.
Gelombang-gelombang tersebut dibagi menjadi hanya tiga gelombang: gelombang
pertama menurun, kedua naik, gelombang ketiga dan final menurun.
Elliot’s
Principle
merupakan suatu alat yang sangat menarik untuk memberikan prespektif sejarah
secara garis besar atas pergerakan-pergerakan pasar. Kesulitan muncul karena sering
diperlukan revisi interpretasi jika analist
berusaha mengetahui intermediate wave
dan minor wave karena yang dapat
diketahui langsung adalah major wave.
Prinsip ini penting jika ingin mendapatkan prespektif mengenai pasar kaitannya
pasar dengan trend jangka sangat panjang.
3. BREADTH INDEX (BI)
Breadth Index di dasarkankan pada
saham-saham yang naik dan turun setiap hari, pada volume saham yang
diperdagangkan pada hari-hari naik dan turun. Perhitungan BI dapat
diilustrasikan sebagai contoh. Misalnya dalam satu minggu tertentu terdapat 800
saham naik, 400 turun, dan 200 tidak berubah, maka
BI = [(800-400)/200] = 2 total minggu sebelumnya.
Pentingnya BI
terletak pada confirmation dan non confirmation dari
puncak-puncak (peak) penting dalam
rata-ratnya. Pada umumnya, jika peaks
di confirmed oleh BI berarti market
leadership cukup lebar sehingga tidak ada penurunan dalam waktu dekat. Jika
BI menolak untuk mengkonfirmasikan new
highs in the averages, berarti kenaikan tersebut dibatasi oleh relatif
sedikit saham dan suatu penurunan mungkin terjadi. Jika BI gagal melebihi
ketinggian pada peak yang baru, maka
penampilan yang buruk ini memberikan suatu peringatan dini atas adanya break yang sangat tajam
Up side volume adalah volume pada
hari-hari lebih banyak saham yang naik. Dowside volume adalah volume
pada hari-hari lebih banyak saham yang turun.
C. Jenis Technical Analysis
- Classical Technical
Analysis
- Line studies
- Chart pattern
- Modern Technical
Analysis
- Trend following indicators
- Oscillator indicators
- Miscellaneous indicators
V. PENGOPERASIAN METASTOCK PROGRAM
Program ini digunakan untuk
menganalisis saham dengan technical
analysis dapat secara on-line
ataupun off-line. Versi yang terbaru
(2004) adalah versi 9.0. Versi terbaru ini membutuhkan Microsoft Windows 2000
(Service Pack 3 atau lebih)/XP, Pentium 3 processor atau yang lebih cepat, CD-ROM
drive, Super VGA (1024 x 768) atau dengan resolusi monitor lebih tinggi serta 256
warna, Microsoft Internet Exporer 6, Microsoft .NET framework, Microsoft Media Player
7.1 atau lebih tinggi, Modem atau koneksi internet, link dengan pusat data missal Reuter DataLink. MAPI Mail compliant
program, RAM sebesar 256 megabytes, masih terdapat space minimal 600 megabytes
dalam hard disk (ditambah
200MB untuk System Testing Reports), dan ada online data vendor
dengan DataOnDemandTM
A. Membuka
Grafik
Untuk membuka grafik ambil icon
OPEN sebelah kiri atas kemudian pilih pada data sampel. Jika data yang digunakan tidak dari sampel
maka harus dilakukan transfer data
lebih dahulu dari data Excel (Microsoft Excel 4.0 Worksheet) melalui
fasilitas THE DOWNLODER icon sebelah kanan atas, muncullah CONVERT
SECURITIES. Data yang tersimpan di Excel
harus mempunyai heading kolom terdiri dari date, high, low, close, dan
volume (minimal date dan close). Format date adalah mm/dd/yy
dengan ascending (dimulai dari data
yang terlama ke baru) Program Excel harus ditutup dahulu sebelum
dikonversi oleh metastock. Gunakan
browse untuk mencari file yang
dimaksud. Source: tipe file adalah EXCEL Folder dipilih sesuai
dengan tempat menyimpan file Excel. Destination:
file type dipilih METASTOCK. Folder
adalah lokasi tempat menyimpan file hasil konversi. Ticker harus diisi sesuai dengan file name yang digunakan. Jika konversi berhasil akan muncul conversion
report Ö. Data siap dipakai oleh metastock
melalui open dan find ticker.
B. Menggambar Garis
Agar memudahkan analisis
dan kecenderungan grafik, maka dengan bantuan garis (misal, Trend) akan
amat membantu visualisasinya. Cara yang dilakukan dengan menklik icon TRENDLINE, menahannya dan
menariknya sampai tempat yang sesuai. Grafik ada beberapa macam, dengan
menggunakan bar chart dan klik dapat diperoleh properties
berbagai macam jenis grafik yang dapat digunakan, kemudian apply.
1. Bar
Chart
2.
Candlestick
long white: bullish long
black line
Untuk mengetahui lebih
lanjut candle chart dapat dilihat pada lampiran 1 (Appendix A).
3.
Point
and Figure
(P&F)
P&F tidak mempunyai
basis waktu. Input P&F hanya terjadi jika ada perubahan harga, symbol:
Penurunan harga Kenaikan harga
C. Menggunakan
Indikator
Indikator
merupakan alat utama dari analisis teknikal. Untuk memberikan pedoman yang
lebih akurat, digunakan beberapa indikator sekaligus, misal moving average
indicator, relative strength, dan momentum. Pilihlah INDICATOR
QUICKLIST sebagai indikator analisis yang diinginkan. Klik dan tarik ke tempat
grafik yang sudah terbuka. Akan terlihat option
parameter. Dalam option parameter
sudah ditentukan default-nya jika
ingin menggantinya dapat dilakukan. Setelah selesai klik OK. Hasil grafik dan
indikator akan memberikan kemudahan analisis bagi kita.
1. Moving Average (MA)
Moving average (MA) adalah
salah satu indikator yang populer dalam analisis teknikal modern. Moving
average digunakan untuk mengidentifkasi sinyal bahwa trend telah dimulai, sedang berlangsung atau akan segera berakhir.
Pada umumnya penggunaan moving average untuk mengidentifikasi arah trend yang sedang dan akan terjadi serta
digunakan untuk mengidentifikasi sinyal jual atau beli. Apabila harga aktual (actual
price) bergerak naik di atas garis moving average menunjukkan bahwa
pasar bullish akan terjadi (Gambar 3). Sedangkan kondisi pasar bearish
terjadi apabila garis moving average bergerak turun di atas harga asli
(Gambar 4). MA ada tiga jenis, yaitu simple moving average, weighted moving
average, dan exponential moving
average.
Gambar 3: Pasar Bullish
(Sumber: Data diolah dengan MetaStock)
Gambar 4: Pasar Bearish
(Sumber: Data diolah dengan MetaStock)
Moving average yang panjang
atau lebih lama periodenya dapat digunakan sebagai indikator trend, dan moving average yang
lebih pendek periodenya digunakan untuk menentukan “timing”. Timing berarti menentukan kapan saham sebaiknya dibeli dan
kapan sebaiknya saham dijual. Salah satu tujuan penggunaan dua garis moving
average adalah untuk menghindari adanya whipsawing atau kesalahan
dalam mengidentifikasi trend dan timing.
Penggunaan periode dalam moving
average juga bermacam-macam tergantung dari jenis pasarnya. Namun dalam
perdagangan saham biasanya terdapat periode-periode yang populer dikalangan
analis, seperti periode 9 atau10 untuk jangka pendek, dan 10 atau 20 untuk
jangka panjang. Periode lain yang sering digunakan adalah 18 atau 20, 40 atau
50, dan 100 atau 200.
Sinyal beli dalam penggunaan
dua moving average terjadi apabila harga asli berada di atas moving
average dengan periode
pendek bergerak memotong dari bawah ke atas moving average periode
panjang. Sinyal jual terjadi jika moving average periode pendek bergerak memotong dari atas ke
bawah moving average panjang serta harga asli terjadi di bawah
persilangan (cross-over) tersebut (Gambar 5).
Gambar 5: Sinyal Beli dan Jual Melalui
Indikator Moving Average
Sinyal jual atau beli akan
menjadi lebih signifikan apabila persilangan antara kedua moving average
yang digunakan memiliki arah yang sama. Jika kedua garis moving average
bergerak ke atas disebut Golden Cross dan sebaliknya, jika bergerak ke
bawah disebut Death Cross
(Pring, 2002).
2. Oscillator (momentum indicators)
Oscillator (momentum
indicators) mempunyai banyak manfaat. Manfaat utama oskilator untuk memberi
gambaran yang jelas tentang aktivitas pasar. Oskilator relatif mudah dibangun
dan diinterpretasikan. Salah satu keunggulan oskilator dapat digunakan dalam
kondisi harga sedang bergerak naik, turun, maupun menyamping. Banyak alat teknikal lainnya tidak mampu
memberikan indikasi bila harga bergerak ke samping.
a. Momentum
(Mo)
Momentum mengukur percepatan atau perlambatan harga. Oskilator momentum
dibentuk untuk mengukur kecepatan atau tingkat perubahan. Oskilator momentum
diciptakan dengan mengurangi harga penutupan dengan harga periode yang lalu
yang dipilih Setelah harga setiap periode dikurangkan maka hasilnya digambarkan
di sekitar garis nol.
Sebagai contoh, oskilator momentum lima hari adalah perbedaan antara
harga penutupan sekarang dengan harga penutupan lima hari yang lalu. Hasil
pengurangan setiap harinya baik yang bernilai positif maupun negatif
digambarkan disekitar garis nol. Oskilator momentum bereaksi berdasarkan
keuntungan dari selisih harga sekarang dengan keuntungan dari selisih harga N
periode yang lalu. N adalah jumlah periode yang dipilih. Keunggulan oskilator
momentum dapat memberi arah aktivitas harga pada titik balik pasar. Tabel 1 di bawah adalah reaksi oskilator momentum
untuk memberi arah pada aktifitas harga melalui titik balik pasar.
Tabel
1
Reaksi
Oskilator Momentum
|
Oskilator Momentum
|
Deskripsi
|
|
Naik
|
Harga di
periode sekarang naik lebih banyak (turun lebih sedikit) dari N periode yang
lalu.
|
|
Datar
|
Harga naik atau
turun di periode sekarang jumlahnya sama dengan N periode yang lalu.
|
|
Turun
|
Harga di
periode sekarang naik lebih kecil (turun lebih banyak) dari N periode yang
lalu.
|
Sumber: MetaStock user’s manual versi 9.0 (
2004)
b. Relative Strength Index (RSI)
Relative Strength Index merupakan
indikator momentum harga yang dikembangkan oleh J. Welles Wilder, Jr. RSI harus
digunakan sejalan dengan grafik pergerakan harga tetapi tidak bersama-sama
dengan indikator sejenis lainnya. RSI umumnya disebut dengan indikator relative
strength merupakan rangkaian momentum. RSI tidak boleh dipengaruhui oleh principle
of relative strength saat suatu seri dibagi dengan yang lain. RSI ini
merupakan rasio weighted price velocity untuk suatu sekuritas relatif
pada dirinya sendiri dan dengan demikian juga relatif pada kinerja masa lalu
(Pring 2002).
RSI secara khusus didesain
untk mengatasi tiga kelemahan oscillator. Pertama, oscillator
bergerak secara tidak beraturan karena tidak menggunakan data lama dalam
kalkulasnya. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki oscillator 10 hari
dan 10 hari lalu harga sekuritas naik-turun secara dramatis, oscillator
saat ini akan salah mengartikan dengan terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Kedua, terkait dengan skala oscillator, yaitu seberapa tinggi-rendah oscillator
akan menjadi tanda untuk membeli atau menjual. Ketiga, kebutuhan untuk menjaga
jumlah data yang sangat besar untuk perhitungan oscillator.
RSI digunakan untuk
menghitung rasio rata-rata kenaikan harga penutupan dengan rata-rata penurunan
harga penutupan dalam periode tertentu.
RSI
= 100 - 100/(100 + RS)
RS
= Average upclose value/ Average
downclose value
RSI berkisar antara 0 – 100, harga di
atas level index 70 adalah bullish, atau saham overbough
oleh para investor. Harga di bawah 30 disebut kondisi bearish dan
dinilai oversold.
Jika RSI pada
level 70 atau lebih disebut technical
rebound, karena minat beli sudah reda. Kebalikannya di bawah 30
artinya harga oversold, karena minal jual sudah reda. Overbought adalah
sinyal jual dan oversold adalah
sinyal beli (lihat Gambar 6).
Catatan: biasanya digunakan 9 hari
dan 21 hari basis waktu. Para analist cenderung memilih 80/20 daripada 70/30 untuk batas kondisi overbough/oversold
Gambar 6.
Peak (puncak) and Trough (lembah)
c. Commodity Channel Index (CCI)
Commodity
Channel Index (CCI) dihitung dengan menentukan perbedaan antara harga
rata-rata komoditas dan tingkat harga rata-rata pada periode tertentu yang
telah ditetapkan. Perbedaan
tersebut kemudian dibandingkan dengan rata-rata perbedaan pada suatu periode
waktu. Hasil yang diperoleh kemudian dikalikan dengan konstanta yang di desain
untuk menyesuaikan CCI sehingga menjadi sesuai dengan tingkat perdagangan yang
berkisar ±100.
d. Stochastic
Oscillator
Pendekatan ini diperkenalkan oleh George C. Lane. Stochastic oscillator sangat populer bagi para investor, terutama
yang berorientasi jangka pendek. Stochastic
oscillator adalah teknik kecepatan harga yang didasarkan pada teori bahwa
bila harga naik, maka harga penutupan mempunyai tendensi mendekati harga
tertinggi hari ybs. Begitu juga harga bergerak turun, maka harga penutupannya
kecenderungan mendekati harga terendah hari itu.
3. Market Strength Indicators
Indikator kekuatan pasar digunakan untuk mengukur kekuatan suatu pasar.
Asumsi yang digunakan dalam mengukur kekuatan suatu pasar adalah apabila volume
perdagangan bertambah secara signifikan, maka akan diikuti oleh banyaknya
pembeli (buyers). Sebaliknya apabila
volume perdagangan bergerak turun menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pasar
semakin kecil yang ditandai dengan sedikitnya pembeli.
a. Money Flow Index
Indikator Money Flow Index (MFI) untuk mengukur
kekuatan arus uang dari suatu sekuritas.
Hal ini sangat dekat hubungannya dengan Relative
Strength Index (RSI), perbedaannya adalah bahwa money flow index dapat memperkirakan pergerakan volume, sedangkan
RSI hanya berhubungan dengan pergerakan harga saja. Money Flow Index dihitung dengan menentukan harga rata-rata dalam
sehari, kemudian membandingkannya dengan harga rata-rata hari sebelumnya.
Apabila harga rata-rata hari ini lebih tinggi dari harga rata-rata hari
sebelumnya, maka hal ini disebut dengan positive money flow dan apabila harga
rata-rata hari ini lebih rendah dari harga rata-rata hari sebelumnya, maka hal
ini disebut sebagai negative money flow.
Money Flow secara spesifik untuk hari
tertentu dihitung dengan cara mengalikan harga rata-rata dengan volume.
b. Negative Volume Index
Negative
Volume Index (NVI) berkaitan dengan menurunnya volume terhadap
perubahan harga suatu sekuritas. Pada saat volume menurun dari hari sebelumnya,
NVI disesuaikan (adjusted) dengan
perubahan persentase harga suatu sekuritas.
Optimisasi sistem dilakukan
dengan menggunakan berbagai jenis indikator dengan cara melakukan test yang bevariasi sesuai dengan trading rules. Setiap perdagangan dengan
satu jenis saham dapat menggunakan optimisasi variable’s range ke dalam kategori: minimum, maximum dan step diikuti dengan melakukan optimisasi
terhadap periode waktu yang digunakan sebagai basis perhitungan. Sinyal
beli-jual diperoleh dengan mengamati garis perpotongan masing-masing indikator
maupun untuk kombinasi antara indikator (Tabel 2).
Formula sinyal beli-jual
menggunakan software MetaStock
untuk mendapatkan return atas data yang diproses. Brokerage fee dan tax
setiap transaksi dilakukan sebesar 0,5 persen untuk order beli (0,2%) dan order
jual (0,3 % termasuk pajak 0,1%).
Tabel 2
Sinyal Beli dan Jual
Trend Indicators
|
Indikator
|
Sinyal Beli
|
Sinyal Jual
|
|
Simple Moving Average (SMA)
|
Cross(C,Mov(C,opt1,S))
SMA memotong
ke atas grafik harga saham
|
Cross(Mov(C,opt1,S),C)
SMA memotong ke bawah grafik harga saham
|
|
Weighted Moving Average (WMA)
|
Cross(C,Mov(C,opt1,W))
WMA memotong
ke atas grafik harga saham
|
Cross(Mov(C,opt1,W),C)
WMA memotong ke bawah grafik harga saham
|
|
Exponential Moving Average (EMA)
|
Cross(C,Mov(C,opt1,E))
EMA memotong
ke atas grafik harga saham
|
Cross(Mov(C,opt1,E),C)
EMA memotong
ke bawah grafik harga saham
|
Momentum Indicators
|
Indikator
|
Sinyal Beli
|
Sinyal Jual
|
|
Momentum
(Mo)
|
Cross[Mo(opt1),100]
Mo memotong ke atas garis horizontal 100 (seratus)
|
Cross[100,Mo(opt1)]
Mo memotong ke bawah garis horizontal 100 (seratus)
|
|
Relative Strength Index
(RSI)
|
Cross[RSI(opt1),30] OR Cross[RSI(opt1),70]
RSI memotong ke atas garis horizontal 30 atau garis 70
|
Cross[70,RSI(opt1)] OR Cross [30,RSI(opt1)]
RSI memotong ke bawah garis horizontal 30 atau garis 70
|
|
Commodity Channel Index (CCI)
|
Cross[CCI(opt1),-100]
CCI memotong ke atas garis horizontal -100
(minus
seratus)
|
Cross[100,CCI(opt1)]
CCI memotong ke bawah garis horizontal +100
(plus seratus)
|
|
Stochastic Oscillator
(Stoch)
|
Cross[Stoch(opt1,opt2),20]
Stochastic Oscillator memotong ke atas garis horizontal 20
|
Cross[80,Stoch(opt1,opt2)]
Stochastic Oscillator memotong ke bawah garis horizontal 80.
|
Market Strength Indicators
|
Indikator
|
Sinyal Beli
|
Sinyal Jual
|
|
Money Flow Index
(MFI)
|
Cross[MFI(opt1),20] OR Cross[MSI(opt1),80]
MFI memotong ke atas garis horizontal 20 atau 80
|
Cross[MFI(opt1),20] OR Cross[MFI(opt1),80]
MFI memotong ke bawah garis horizontal 20 atau 80
|
Kombinasi Indikator antara Oscillator
(Momentum Indicators) dengan Trend Indicators
|
Indikator
|
Sinyal
Beli
|
Sinyal
Jual
|
|
Momentum & Simple
Moving Average (Mo&SMA)
|
Cross[Mo(opt1),{Mov(Mo(opt1),
opt2,S)}]
Momentum memotong ke atas garis SMA dari Momentum
|
Cross[{Mov(Mo(opt1),opt2,S)},
{Mo(opt1)}]
Momentum memotong ke bawah garis SMA dari Momentum
|
|
Momentum & Weighted
Moving Average (Mo&WMA)
|
Cross[Mo(opt1),{Mov(Mo(opt1),
opt2,W)}]
Momentum memotong ke atas garis SMA dari Momentum
|
Cross[{Mov(Mo(opt1),opt2,W)},
{Mo(opt1)}]
Momentum memotong ke bawah garis WMA dari Momentum
|
|
Momentum & Exponential
Moving Average (Mo&EMA)
|
Cross[Mo(opt1),{Mov(Mo(opt1),
opt2,E)}]
Momentum memotong ke atas garis SMA dari Momentum
|
Cross[{Mov(Mo(opt1),opt2,E)},
{Mo(opt1)}]
Momentum memotong ke bawah garis EMA dari Momentum
|
|
Relative Strength Index
& Simple Moving Average (RSI&SMA)
|
Cross[RSI(opt1),Mov{RSI(opt1),
opt2,S)}]
RSI memotong ke atas garis SMA dari RSI
|
Cross[{Mov(RSI(opt1),opt2,S)},
{RSI(opt1)}]
RSI memotong ke bawah garis SMA dari RSI
|
|
Relative Strength Index
& Weighted Moving Average (RSI&WMA)
|
Cross[RSI(opt1),Mov{RSI(opt1),
opt2,W)}]
RSI memotong ke atas garis WMA dari RSI
|
Cross[{Mov(RSI(opt1),opt2,W)},
{RSI(opt1)}]
RSI memotong ke bawah garis WMA dari RSI
|
|
Relative Strength Index
& Exponential Moving Average (RSI&EMA)
|
Cross[RSI(opt1),Mov{RSI(opt1),
opt2,E)}]
RSI memotong ke atas garis EMA dari RSI
|
Cross[{Mov(RSI(opt1),opt2,E)},
{RSI(opt1)}]
RSI memotong ke bawah garis EMA dari RSI
|
Kombinasi Indikator antara Market
Strength Indicators dengan Trend
Indicators
|
Indikator
|
Sinyal
Beli
|
Sinyal
Jual
|
|
Money Flow Index &
Simple Moving Average (MFI&SMA)
|
Cross[MFI(opt1),{Mov(MFI(opt1),
opt2,S)}]
MFI memotong ke atas garis SMA dari MFI
|
Cross[{Mov(MFI(opt1),opt2,S)},
{MFI(opt1)}]
MFI memotong ke bawah garis SMA dari MFI
|
|
Money Flow Index &
Weighted Moving Average (MFI&WMA)
|
Cross[MFI(opt1),{Mov(MFI(opt1),
opt2,W)}]
MFI memotong ke atas garis WMA dari MFI
|
Cross[{Mov(MFI(opt1),opt2,W)},
{MFI(opt1)}]
MFI memotong ke bawah garis WMA dari MFI
|
|
Money Flow Index &
Exponential Moving Average (MFI&EMA)
|
Cross[MFI(opt1),{Mov(MFI(opt1),
opt2,E)}]
MFI memotong ke atas garis
EMA dari MFI
|
Cross[{Mov(MFI(opt1),opt2,E)},
{MFI(opt1)}]
MFI memotong ke bawah garis EMA dari MFI
|
|
Negative Volume Index
& Simple Moving Average (NVI&SMA)
|
Cross(NVI(),Mov(NVI(),opt1,S))
NVI memotong ke atas garis SMA dari NVI
|
Cross(Mov(NVI(),opt1,S),NVI())
NVI memotong ke bawah garis SMA dari NVI
|
|
Negative Volume Index
& Weighted Moving Average (NVI&WMA)
|
Cross(NVI(),Mov(NVI(),opt1,W))
NVI memotong ke atas garis WMA dari NVI
|
Cross(Mov(NVI(),opt1,W),NVI())
NVI memotong ke bawah garis WMA dari NVI
|
|
Negative Volume Index &
Exponential Moving Average (NVI&EMA)
|
Cross(NVI(),Mov(NVI(),opt1,E))
NVI memotong ke atas garis EMA dari NVI
|
Cross(Mov(NVI(),opt1,E),NVI())
NVI memotong ke bawah garis EMA dari NVI
|
Sumber:
Ringkasan.dari Pring (2002) dan MataStock User’s manual versi 9.0 (2004)
D. SUPPORT versus RESISTANCE
SUPPORT (batas bawah) garis harga minat beli cukup
kuat untuk menahan tekanan jual, harga murah untuk dibeli →posisi beli (long)
→P↑
RESISTANCE
(batas atas) garis harga minat jual lebih besar daripada minat beli untuk merealisasikan keuntungan (profit
taking) → posisi jual (short) → P↓
Harga
turun karena aksi jual yang signifikan (over supply saham), merupakan downward
pressure hingga menyentuh titik support level.
S & R menggambarkan
bahwa naik dan turunnya harga saham pasti memiliki batas (batas atas dan batas
bawah). Contohnya harga saham mengalami penurunan karena adanya aksi jual yang
cukup signifikan, maka akan terjadi over
supply oleh saham tersebut. Akibatnya downward
pressure hingga menyentuh titik yang disebut support level.
Pada saat harga menyentuh
titik support level, para pelaku pasar melihat bahwa harga undervalued, murah untuk di beli, aksi
beli terjadi. Akibatnya harga naik dan menyentuh titik resistance. Pada saat itu harga terlalu overvalued pelaku pasar akan melakukan aksi jual, harga turun, demikian
selanjutnya (lihat Gambar 7).
Gambar 7. Support
dan Resistance
E. Pattern
Head
and shoulder,
top and bottom, pennants (dibentuk dari
dua trend line yang menyatu), flag (trend volume yang menurun yang diganggu oleh penurunan atau kenaikan yang
tajam), dan wedges (membentuk segitiga pada garis yang menyatu
dibentuk dari sejumlah puncak dan lembah), akan lebih jelas digambarkan
dengan RSI daripada grafik aslinya (lihat Gambar 8).
Flag Pennant Wedges
Gambar 8. Pattern
F. Divergence (Failure swing)
Penyimpangan antara harga asli dengan
RSI merupakan indikasi kuat akan adanya reversal
(pembalikan). Jika harga pada trend naik membuat titik tertinggi baru
tetapi RSI malah bergerak turun, maka ini biasanya mengidentifikasikan akan
adanya pembalikan. Biasanya digunakan 9 hari dan 21 hari basis waktu, dengan price
field: close dan menggunakan (clik) horizon line.
DAFTAR
PUSTAKA
Akermann, C.A., and Keller, W.E., 1977. Relative
Strength Does Persist. The Journal of
Portfolio Management, Fall, 38-45.
Biang Liang,
1996. The “Dartboard” Column: The Pros, the Darts, and the Market. Working
Paper. Case Western Research
University,
Cleveland-Ohio. October.
Bohan, J.,
1981. Relative Strength: Further Positive Evidence. The Journal of Portfolio Management, Fall, 36-39
Bruner,
R.F., 2003. Case Studies in Finance. Fourth Edition. McGraw-Hill
Brush, J.S.,
1986. Eight Relative Strength Models Compared. The Journal of Portfolio Management, Fall, 21-28.
Chordia, T.,
and Shivakumar, A., and Anshuman, V.R., 2000. Trading Activity and Expected
Stock Returns. Working Paper, Emory
University.
Concrad,
J., and Kaul, G., 1998. Long-term
Overreaction or biases in Computed Returns.The
Journal of Finance 48, 39-63.
Cottle, S., Murray, R.F., and Block,
F.E., 1988. Security Analysis. 5th eds,
McGraw-Hill.
Dalton, J.M., 1993. How the Stock Market Works. 2nd
eds, The New York Institute of Finance.
Diliddo, B., 1998. Stocks Strategies & Common Sense. 4th
eds. HSC Publisher.
Drew, G., 1968. New
Methods for Profit in the Stock Market, Metcalfe Press, Boston.
Farid Harianto, and
Siswanto Sudomo, 1998. Perangkat dan
Teknik Analisis Investasi di Pasar Modal Indonesia. Penerbit PT Bursa Efek Jakarta.
Grundy,
B.D., and Martin, J.S., 2001. Understanding the Nature of the Risks and the
Source of the Rewards to Momentum Investing. The Review of Financial Studies 14, 29-78.
Hendricks,
D.J., Patei, J., and Zeckhauser, R., 1993. Hot Hands in Mutual Funds: Short-run
Persistence of Relative Performance, 1974-1988. Journal of Finance 48, March, 93-130.
Hong, H.,
Lim, T., and Stein, J.C., 2000. Bad News Travels Slowly: Size, Analyst
Coverage, and the Profitability of Momentum Strategies. The Journal of Finance 55, 265-296.
Hubert, M.,
1991. It’s Not Too Late. Forbes 148 (4), 143
Jegadeesh,
N., and Titman, S., 1993. Return to Buying Wieners and Selling Losers:
Implications for Stock Market Efficiency.
Journal of Finance 46, March., 65-91.
Krass. P.,
1999. The Book of Investing Wisdom: Classic Writings by Great Stock-Pickers
and Legends of Wall Street. Wiley & Son.
Laderman,
J.M., 1991. Riding Stocks that Have the Big Mo. Business Week, May 6,118.
Lesmond
D.A., Schill, M.J., and Zhou, C., 2001. The Illusory Nature of Momentum
Profits. Working Paper. NBER 4243.
Levy, R.A.,
1967. Relative Strength as a Criterion for Investment Selection. Journal of Finance. Winter, 595-611
Levy, R.A.,
and Kripotos, S.L., 1969. Earning Growth, P/E’s and Relative Price Strength. Financial Analysts Journal,
November-December, 60-67.
Malkiel, B.G, 1990. A Random
Walk Down Wall Street. New York, WW Norton
& Company.
Meissner,
G., 2001. The RSI Revisited. Quality
Trading Techniques, August, 34-36.
Pring, M.J., 2002. Technical Analysis Explained. 4th
eds, McGraw-Hill.
Shimo, M.D., 1999. Stock
Market Rules: 70 of the Most Widely Held Investment Axioms Explained, Examined
and Exposed. Wiley & Son.
Volkman, D.A., and Wohar, M.E.,
1996. Abnormal Profits and Relative Strength in Mutual Fund Returns. Review of Financial Economies 5 (2),
101-116.